Jumat, 04 Mei 2012

Manusia dan Penderitaan

  
 (gambar ilustrasi)


Sangat hati-hati sekali, aku mulai membuka sampul surat itu. Aku kaget bukan main! Surat Hanin tampil dalam bentuk lain, undangan pernikahan dengan motif bunga yang melambangkan kehidupan. Dalam lembaran terpisah, ada kertas kecil yang bertuliskan:

Putri…
Aku tunggu kehadiranmu. Walau hanya dalam mimpi dan anganku.

Hanin akan menikah? Aku jadi bimbang. Ingin sekali aku memenuhi undangan itu, melihatnya bahagia, tapi bagaimana caranya? Saat ini aku hanya bisa berbaring, menanti kehidupan baru, kehidupan yang pernah disampaikan Hanin padaku. Jika tidak aku penuhi undangan itu, aku merasa sangat berdosa. Percuma selama ini aku berjuang, jika rasa berdosa itu ikut menyelimuti tubuhku.

* * *
Ya, bagaimana aku tidak merasa berdosa, sejak kepergian ibu, tidak ada lagi yang mau menemani hari-hariku, kecuali Hanin. Hanin, wanita yang usianya sepuluh tahun di atasku, telah menjadi bagian dalam kehidupanku. Haninlah yang terus memberiku semangat hingga saat ini aku masih bisa bertahan, bertahan untuk terus hidup.

Hanin tidak seperti Rina yang selalu menghindar bila berjumpa denganku. Padahal dulu, kami selalu pergi ke sekolah bersama, belajar bersama dan bermain bersama. Jika ada kesempatan, Rina selalu singgah ke rumahku, hanya untuk bercerita bahwa Robi hampir tiap malam meneleponnya, bahwa Robi telah resmi menjadi pacarnya dan bahwa Robi telah berani mecium pipinya.

Hanin juga tidak seperti Leo, yang selalu menghindar bila berjumpa denganku. Padahal dulu, Leo selalu mencuri perhatianku, selalu berusaha mendekatiku, dan akhirnya Leo menjadi kekasihku yang kemudian meninggalkanku. Hanin juga tidak seperti ayah, ayah selalu sibuk dengan urusan kantor dan wanita-wanita simpanannya.

Aku mengenal Hanin setahun yang lalu, lewat sebuah saluran komunikasi yang di sebut “chatting”. Waktu itu kami saling berbagi cerita, pengalaman, dan keluh kesah. Perkenalan kami berlanjut lewat surat dan telepon jarak jauh (ternyata Hanin bermukim di sebuah kota yang jaraknya ratusan kilometer dari kotaku). Aku ceritakan semuanya tentang kehidupanku, tentang semua penderitaanku, dan Hanin seperti tidak pernah bosan membalas semua surat-suratku. Katanya, “penderitaan itu adalah perjuangan, hidup memang penuh perjuangan, hidup tanpa perjuangan adalah kematian”, begitulah isi dari suratnya yang pertama kali untukku. Kata-katanya itu masih tertanam kuat dalam hatiku, kata-kata itulah yang membuatku masih bisa bertahan, bertahan untuk terus hidup. 

Lewat telepon, aku tidak saja bercerita tentang penderitaanku yang menurutnya adalah perjuanganku, tapi juga tentang penderitaan ibuku. Aku ceritakan semuanya tentang bagaimana menderitanyan ibu menghadapi tingkah polah ayah. Ya, ayah sedikitpun tidak pernah memperdulikan kami, anak dan istrinya. Jika ibu menanyakan hal itu pada ayah, maka dapat dipastikan ayah akan marah, lalu membentak-bentak ibu, menamparnya, memukulnya, dan bahkan tak jarang, ayah menggunakan kakinya untuk menendang ibu. Untuk hal yang satu ini, aku betul-betul tidak bisa melupakannya. Suatu hari, ibu menemukan foto ayah yang sedang asyik bermesraan dengan seorang perempuan yang entah siapa namanya. Tentu saja ibu tidak tinggal diam. Ibu kemudian menemui ayah dan menanyakan siapa perempuan yang bersamanya di foto itu. Ayah kaget, lalu merebut foto tersebut, kemudian ayah menampar ibu, memukul ibu dan menendangnya.

“Ini bukan urusanmu, awas! Jangan mengungkit masalah ini kalau tidak ingin kuceraikan!”
Kuperhatikan waktu itu ibu tidak bisa berbuat apa-apa, ibu hanya menunduk sembari menahan butiran lembut yang tiba-tiba saja mengalir di pipinya. Sejak saat itulah, hubungan ibu dan ayah tidak harmonis lagi. 

Aku juga menceritakan bagaimana menderitanya ibu ketika mendengar ejekan tetangga sejak aku di vonis oleh dokter menderita penyakit yang sama sekali tak pernah kubayangkan. Akhirnya ibu meninggal. Tapi Hanin tetap saja mengatakan bahwa penderitaan itu adalah perjuangan.
“Putri, penderitaan ibumu juga perjuangan,hidup memang penuh dengan perjuangan,mati dalam perjuangan adalah kehidupan”
“Berarti ibuku telah menemukan kehidupannya?”
“Insyaallah, berdo’alah”

* * *
Sejak penyakit itu bersarang ditubuhku, sejak itulah berbagai penderitaan muncul di dalam kehidupanku. Kenapa harus penyakit itu yang bersarang ditubuhku? Apa salahku? Aku bukan pelacur, aku tidak pernah menjual tubuhku, aku tidak pernah menjual pantatku, apalagi selangkanganku. Ketika kutanyakan hal ini kepada semua orang yang pernah kukenal, kecuali Hanin, jawaban mereka nyaris sama : “itu adalah suratan, itu adalah takdir”. Ah, persetan dengan suratan, persetan dengan takdir, ataukah Tuhan yang tidak adil padaku?

Akhir-akhir ini pekerjaan rutinku hanya menulis dan membaca surat, hanya itu yang bisa aku lakukan selain makan dan tidur di ranjangku yang kadang-kadang membuat nafasku terasa sesak. Aku tidak lagi sekolah seperti dulu. Pihak sekolah telah lama mengeluarkan aku dari daftar siswa, menurut mereka, hal itu untuk menjaga nama baik sekolah. Padahal, banyak sekali guru-guru di sekolahku terlibat korupsi, termasuk kepala sekolah itu sendiri. Apakah hal itu tidak merusak nama baik sekolah? Tapi aku tetap bersyukur, lebih baik dikeluarkan dari pada tetap bersekolah. Penderitaanku akan bertambah bila tetap bersekolah. Di sekolah, aku dikucilkan, di cemooh, dan digunjingkan, bukankah itu akan menambah penderitaanku?

Belakangan ini komunikasiku dengan Hanin hanya berlangsung lewat surat. Aku tidak bisa lagi memakai jasa internet, karena untuk menempuh warnet langgananku, aku harus berjalan sejauh satu kilometer. Aku tidak sanggup lagi berjalan sejauh itu. Kendaraan umum yang ada pun hanya ojek. Naik ojek? Itu sama saja membunuhku. Pernah suatu ketika, aku naik ojek sepulang dari warnet, tiba-tiba tubuhku gemetar dan kepalaku pusing, kemudian aku terjatuh dan dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Hal ini tentu saja membuatku semakin menderita.
Aku tidak berani lagi memakai telepon rumah, ayah sangat marah jika mengetahui pulsa telepon rumah membengkak gara-gara sering kupakai untuk menghubungi Hanin. Untuk pergi ke wartel, kasusnya sama saja dengan pergi ke warnet.

Kali ini surat Hanin tidak lagi tentang perjuangan, tapi tentang kebahagiaan. Kebahagiaan dari perjuangan. Katanya, ia sudah bertunangan dengan seorang lelaki yang sangat mencintainya, seperti ia mencintai lelaki itu. Oh ya, ternyata lelaki itu satu kuliah dengannya. Akhir-akhir ini ku ketahui bahwa Hanin adalah mahasiswa semester terakhir jurusan psikologi di salah satu perguruan tinggi negri yang ada di kotanya. Setelah di wisuda nanti ia akan menikah dengan lelaki itu. Ia juga menanyakan kapan aku menikah, kalau mau seperti dia, aku harus tetap berjuang, kebahagiaan berasal dari perjuangan, begitulah isi dari suratnya. Setelah membaca surat itu, aku mulai merasa sedikit bahagia. Aku merasa memiliki harapan walau dokter menyatakan tidak.

Semua surat-surat Hanin aku susun dan aku lipat dengan sangat hati-hati sekali. Semuanya aku simpan dalam sebuah lemari kecil yang terletak di sudut kamarku. Lemari kecil itu sengaja aku jadikan sebagai tempat khusus penyimpan surat-surat dari Hanin. Aku pasti membuka lemari kecil itu dan membaca kembali surat-surat kiriman dari Hanin jika aku merasa kesepian. Karena surat-surat itulah sampai saat ini aku masih bisa menikmati penderitaan, perjuangan, yang katanya berbuah kebahagiaan.
Tiga bulan setelah itu Hanin tidak lagi membalas surat-suratku. Apakah penyebabnya? Aku tidak tahu. Sudah bosankah Hanin membalasnya? Atau Hanin telah melupakan aku? Meninggalkan aku? Mungkin saja, mungkin saja ia telah larut dalam kebahagiaannya karena telah menikah dengan lelaki pilihannya dan kemudian tidak ingat lagi padaku. Mungkin saja begitu, banyak kutemui orang-orang seperti itu: di saat bahagia lupa akan segalanya. Kenapa tidak, toh Hanin hanya manusia biasa. 

Tapi itu tidak mungkin. Hanin tidak seburuk itu. Mungkin Hanin sedang dalam masalah, atau mungkin Hanin sedang sakit, sakit yang begitu parah, lebih parah dari penyakitku.
Jika memang demikian, berarti ia tengah berjuang sepertiku. Jika memang, aku harus kembali menulis surat padanya, memberinya semangat untuk terus berjuang. Tapi bagaimana caranya? Penyakit itu semakin ganas menerkam tubuhku! Daya tahan tubuhku semakin hilang sehingga tidak bisa lagi menulis. Aku anya bisa berdo’a seperti yang pernah diajarkan Hanin padaku. Kali ini aku berdo’a untuk Hanin.

Alhamdulillah, do’aku dikabulkan Tuhan. Mbok Inah—janda tua yang sebulan belakangan ini digaji ayah untuk merawatku—datang membawa sepucuk surat. Katanya untukku, aku yakin itu pasti dari Hanin. Siapa lagi kalau bukan Hanin, hanya ia yang selalu menulis surat padaku. Ternyata Hanin telah sembuh, Hanin telah bisa kembali menulis surat untukku.

* * *
Ya, dengan sangat hati-hati, aku buka sampul surat itu. Isi suratnya tampil dalam betuk lain. Sebuah undangan pernikahan dengan motif bunga yang melambangkan kehidupan, dan dalam lembaran terpisah, ada kertas kecil bertuliskan: 

Putri…
Aku tunggu kehadiranmu. Walau hanya dalam mimpi dan anganku.

Ingin sekali aku memenuhi undangan itu, melihatnya bahagia. Tapi bagaimana caranya? Ah, aku tidak boleh putus asa, kata Hanin, Tuhan amat murka pada hamba-Nya yang mudah putus asa. Aku harus berusaha, setidaknya memberi tahu Hanin, bahwa aku bahagia menerima undangannya dan ingin sekali menghadiri pesta pernikahannya, menyaksikan Hanin bersanding di pelaminan bersama lelaki yang amat mencintainya.

Tanpa buang waktu lagi, segera kuraih gagang telepon, aku ingin menelepon Hanin. Aku akan katakan pada Hanin bahwa aku akan hadir di hari pernikahannya. Tapi tiba-tiba pandanganku berubah menjadi gelap. Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara memanggil namaku, suara yang sangat familiar sekali di telingaku. Mula-mula suara ibu, lalu berganti dengan suara Hanin. Heran, aku merasa sedang berada di negri lain, negri yang begitu asing bagiku. Inikah yang namanya kehidupan itu? Kehidupan yang pernah dikatakan Hanin padaku? Pandanganku semakin gelap, nafasku tiba-tiba sesak dan kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.




"Penderitaan janganlah dianggap sebagai kelemahan utama pada diri kita. Hal itulah yang membuat kita semakin lemah tak berdaya dan selalu berfikir pesimis dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya masih banyak harapan. Stimulasikanlah penderitaan sebagai poin-poin perjuangan demi mencapai angan dan keinginan yang ada pada hati nurani. 

Manusia yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif biasanya mengekspresikan penyesalan karena tidak bahagia, kekecewaan, putus asa,  bahkan yang lebih ekstrem adalah ingin bunuh diri. 

Namun, manusia haruslah berjuang! Itulah kata yang sangat ampuh untuk memunculkan semangat hidup tanpa halangan yang disebabkan oleh penderitaan. Sesungguhnya penderitaan itu adalah proses/ujian yang bilamana berhasil dilalui niscaya akan mendapatkan kebahagiaan hakiki".

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More