IDN-AUS Latihan Bersama Pesawat Tempur

TNI AU menerbangkan enam pesawat tempur F-16. Sementara RAAF (Royal Australian Air Force) menurunkan delapan pesawat tempur jenis F-18 Hornet.

Rugby Masuk Sekolah

Awalnya hanya sebuah kebiasaan yang dibawa oleh mahasiswa Indonesia yang baru lulus kuliah di Australia. Mereka berpikir, rasanya seru dan nggak masalah juga kalo rugby ini dimainkan oleh negeri sendiri.

Kejuaraan Pacuan Kuda KAPOLRI CUP 2011

Sutan Agogo menang tipis atas Blezing BMW pada Kelas Derby Piala Champion Serie 2. Hal ini membuat pacuan kuda Indonesian Derby 2011 akan berlangsung seru karena hampir semua kuda memiliki kesempatan yang hampir merata.

Klasemen Major League Baseball

Sabtu, 8 Oktober 2011. Detroit @ Texas | TBD | FOX | StubHub | Verlander vs Wilson

Membaca Adalah Jendela Dunia

Dengan membaca, wawasan kita akan semakin bertambah. Dengan wawasan kita yang semakin bertambah, maka derajat sosial kita akan meningkat. Sehingga kita akan lebih disegani oleh masyarakat. Dan jangan lupa berbagi ilmu yang kita dapat.

Selasa, 10 Juni 2014

Berbagai Macam Motor DC


Motor DC

·         Motor DC adalah piranti elektronika yang berfungsi untuk mengubah energi listrik menjadi energi gerak atau rotasi. motor DC menggunakan sumber tegangan searah atau batterai.
·         Motor Servo adalah  motor DC yang dilengkapi rangkaian kendali dengan sistem closed feedback yang terintegrasi dengan motor DC tersebut.
·         Motor gearbox adalah motor DC yang  telah dilengkapi oleh sejumlah gear, sehingga menghasilkan putaran yang stabil dan memiliki torsi yang besar.
·         Motor stepper = motor DC yang arah/sudut putarannya dapat diatur atau gerakannya bertahap. motor DC jenis ini memiliki akurasi yang tinggi tergantung dari pengaturannya.

RPM dan PWM

RPM = merupakan satuan untuk mengukur kecepatan perputaran motor DC
PWM = digunakan untuk mengatur pulsa yang diberikan ke motor DC sehingga dapat mengatur arah perputaran serta kecepatan motor DC.

dalam modul U-1009C digunakan inisialisasi untuk mengatur arah cw, ccw, onc, dan ofc. onc dan ofc digunakan untuk mengatur kecepatan dari motor DC. ketika onc delaynya lebih besar daripada ofc maka motor DC akan bergerak lebih cepat. begitu kebalikannya ketika delay ofc lebih besar dari onc maka motor DC berputar lebih lambat.

Rumus untuk menghitung RPM
RPM = (jumlah pulsa / 18 ) X (1/0,2) X 60 --> rumus ini digunakan dalam modul U-1009C


Review Google Car


Google tengah mengembangkan mobil otomatis yang bisa berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia. Mobil itu telah diujicoba di banyak tempat, bahkan di jalan raya. Ia semakin pintar dan belum sekalipun mengalami kecelakaan fatal.

Teknologi mobil otomatis Google tersebut awalnya dibenamkan di mobil Toyota Prius. Mobil ini dapat berjalan sendiri, tapi sewaktu-waktu kemudinya dapat diambil alih, misalnya dalam kondisi jalanan yang sangat berbahaya.

Dalam perkembangan terbaru, Google juga telah mendesain mobil sendiri, dengan bentuk yang mungil dan tanpa dibekali setir kemudi. Hebat bukan? Bayangkan saja, manusia tinggal masuk ke dalamnya dan mobil akan melaju sendiri.

Memang mobil ala Google itu sudah sedemikian canggih, tapi tentu saja tetap ada beberapa kelemahannya. Berikut ulasan singkat kecanggihan dan kelemahan mobil Google, terutama versi mobil Prius yang masih dibekali kemudi.

Kecanggihan

1. Menghindari pengendara sepeda. Terutama di negara maju, banyak orang memilih naik sepeda untuk menuju ke suatu lokasi. Nah, mobil Google pun dirancang dapat mengenali para pengendara sepeda untuk menghindari kecelakaan.

Misalnya saat ada pengendara akan berbelok di jalur mobil Google dan memberi tanda dengan lambaian tangan, sang mobil akan mengenali lambaian tangan tersebut. Mobil Google pun otomatis akan memperlambat lajunya atau berhenti, dan memberi kesempatan pada sang pengendara sepeda berbelok melalui jalurnya.

2. Cukup agresif. Situasi jalanan berbeda-beda, misalnya saja ada sebuah perempatan tanpa lampu merah. Apa yang akan dilakukan mobil Google dalam kondisi seperti itu?

Pengendara manusia mungkin akan diam saja dan menunggu dengan sabar gilirannya melaju atau berbelok. Tapi mobil Google dirancang untuk lebih agresif, dia akan berjalan perlahan-lahan secara konsisten dan memberi tanda pada mobil lain bahwa ia ingin giliran melaju.

3. Ngebut. Untuk jalanan di dalam kota, mobil Google akan melaju dalam kecepatan normal. Tapi di jalan tol misalnya, mobil Google bisa juga berjalan kencang, bahkan di atas kecepatan yang diperbolehkan. Hal ini disengaja agar sang mobil tidak malah menghambat mobil di sekitarnya yang juga dalam kondisi cepat melaju.

4. Mendeteksi lubang di jalan. Tim Google mendesain agar si mobil mampu mengenali polisi tidur atau lubang di jalanan. Si mobil tidak menghindari halangan tersebut, tapi akan memperlambat lajunya sehingga lebih mulus dalam melaluinya.

5. Terus mengambil informasi. Di situasi jalanan yang rumit, mungkin pengemudi manusia akan mengambil alih kendali karena merasa belum yakin. Nah dalam situasi ini, si mobil akan tetap mengambil info yang diperlukan sehingga tim Google dapat melakukan simulasi komputer bagaimana jika si mobil tetap berjalan otomatis dalam situasi jalanan rumit itu. Tim Google pun dapat memodifikasi perilaku sang mobil berdasarkan info yang dikumpulkannya.

Kelemahan

1. Menghadapi cuaca buruk. Cuaca yang buruk membuat kontrol mobil Google lebih sulit, terutama karena pandangannya ke dunia sekitar terhalang. Keberadaan kabut misalnya, akan membatasi apa yang bisa dilacak radar. Kabar baiknya, tim Google sedang mengujicoba mobil ini agar di kemudian hari mampu menghadapi cuaca yang kurang bersahabat dengan mulus.

2. Kehilangan sinyal. Sinyal selular diperlukan oleh si mobil untuk mengakses bank peta Google yang mendetail dan memungkinkannya mengirim informasi. Koneksi selular lemah sebenarnya tidak menjadi masalah, tapi jika hilang sama sekali, maka menurut tim Google, si mobil akan melakukan langkah pengamanan tertentu. Tidak disebutkan seperti apa, tapi kemungkinan sang mobil akan meminta manusia mengambil alih kemudinya.

3. Mengenali polisi. Sang mobil memang akan mengenali jika ada seseorang memberhentikannya di tengah jalan, tapi dia tidak akan mengenalinya sebagai polisi. Dalam situasi ini, si mobil mungkin akan sedikit kebingungan dan menyerahkan kendali pada pengemudi manusia.

4. Mengenali makhluk kecil. Si mobil akan mengenali kerumunan manusia, pejalan kaki atau binatang besar seperti rusa yang mencoba menyeberang jalan, tapi dia belum dapat mengenali hewan kecil, misalnya saja tupai. Tupai masih terlalu kecil untuk dapat dikenali sensornya. Saat ini, tim Google masih memperbaiki teknologinya sehingga di masa depan makhluk sekecil tupai pun dapat terdeteksi.

SUMBER

Talent!

Di dunia maya banyak sekali kita lihat catatan absurd anak muda jaman sekarang yang semakin lama semakin di gandrungi. Begitupun juga saya, yang pada sampai kalimat yang kalian baca inipun masih terbilang random alias acak, atau abstrak alias gak jelas, atau alias apalah terserah kalian bagaiamana mau menyebutnya. Maaf sebelumnya disini saya memakai konteks bahasa yang baku namun santai.

Oke kita kembali ke topik utama. Pada kesempatan kali ini saya mengajak kalian semua untuk membaca sekelumit pengalaman yang saya alami tentang Talent! Mengapa demikian menggunakan tanda seru? Ya! Karena Talent! dengan tanda seru merupakan suatu tulisan dengan makna tersirat bahwa sesungguhnya Talent! tersebut sangat ingin dimiliki oleh si calon pemilik Talent! dengan cara berusaha yang sangat keras. Terlebih itu berlatih sesering mungkin, ataupun belajar dengan giat, tergantung pada kemauan si calon pemilik Talent! Tersebut.

Masih belum jelas? Tentu saja, inilah fitur utama dari ke-absurd-an tulisan saya.

Tapi intinya kalian semua tahu apa yang saya ingin sampaikan bukan? Disaat seseorang ingin menunjukkan seesuatu kepada orang lain, maka timbul kemauan untuk mengeluarkan segala kemampuan yang ada dalam seluk-beluk tubuh si pelaku dengan segenap jiwa dan raga agar si penonton merasa kagum dan berfikir bahwa si pelaku itu keren, karena si penonton tidak memiliki kemampuan seperti yang ditunjukkan oleh si pelaku Talent! Mungkin lebih cocok untuk ditulis bukan ‘tidak memiliki’, namun bisa juga si penonton belum berani untuk menunjukkan Talent! Yang sebenarnya ada pada dirinya.

Wah sudah malam ya, mungkin terlalu hiperbola penjelasan dari saya mengenai apa itu Talent!

Cukup sekian dan terima kasih. Ini hanya tulisan iseng belaka dan jangan diambil hati setelah kalian membacanya ya, namanya juga hidup.

Semoga ketemu lagi di lain kesempatan! Tentunya yang lebih absurd lagi.


Senin, 09 Juni 2014

Resensi Film Surrogates





Judul Film       
 Surrogates

Genre/Jenis     
Aksi/Fiksi Ilmiah

Sutradara        
Jonathan Mostow

Produser        
·         David Hoberman
·         Todd Lieberman
·         Max Handelman
·         Elizabeth Banks

Penulis            
·         John Brancato
·         Michael Ferris (Naskah)
·         Robert Venditti (Cerita)

Pemeran         
·         Bruce Willis          (Tom Greer)
·         Radha Mitchell     (Jennifer Peters)
·         Rosamund Pike     (Maggie Greer)
·         Boris Kodjoe         (Andrew Stone)
·         Jack Noseworthy  (Miles Strickland)
·         James Cromwell    (Lionel Canter)
·         Ving Rhames        (Prophet)

Musik             
Richard Marvin

Sinematografi 
Oliver Wood

Penyunting    
·         Kevin Stitt
·         Barry Zetlin
·         Studio Mandeville Films
·         Top Shelf Productions
·         Wintergreen Productions

Distribusi        
Touchstone Pictures

Tanggal rilis 
·         24 Sep 2009 (Luar Amerika Serikat)
·         25 Sep 2009 (Amerika Serikat)

Durasi             
89 menit

Asal Negara            
Amerika Serikat

Bahasa            
Inggris

Anggaran       
$80 juta

Pendapatan   
$122.444.772


   
Resensi :
Film ini bermula dari penciptaan surrogate yang memicu munculnya para pendukung maupun penolaknya. Dalam Film ini Bruce Willis, berperan sebagai Greer, dan Radha Mithcell, sebagai Peters, menerima kasus tentang rusaknya dua buah surrogate. Saat dilacak, operator dari surrogate tersebut ternyata telah tewas dengan keadaan yang mengenaskan. Salah satu operatornya adalah putera dari Lionel Canter, penemu surrgate. Greer pun berkesimpulan dari video surrogate sebelum rusak, bahwa meninggalnya operator adalah sebuah pembunuhan.
Melalui penyelidikan lebih lanjut Greer menemukan bahwa laki-laki yang membunuh operator itu bernama Miles Strickland. Saat mengejar Miles Strickland, surrogate dari Greer pun rusak karena alat tersebut, untungnya Greer selamat dan terus melakukan pengejaran, kali ini tanpa surrogate. Greer akhirnya menemukan bahwa Strickland membunuh menggunakan sebuah benda yang sangat canggih. Untuk menyelidiki hal tersebut, Greer pun pergi ke daerah Dread (daerah orang-orang yang menolak surrogate). Di sana ia melihat surrogatenya telah dipancang di salib, setelah itu ia melihat Prophet dan berbincang dengannya. Prophet menjanjikan akan memberikan alat tersebut jika ditemukan. Pada saat yang sama agen Jennifer Peters dibunuh dan surrogatenya diambil alih oleh orang tak dikenal. Ternyata orang tersebut adalah Lionel Canter.
Greer akhirnya melaporkan alat itu kepada militer dan militer menjelaskan bahwa alat itu bernama OD (Overload Device) yang membuat sistem pengaman anti-kegagalan surrogate tertembus dan mampu membunuh operator dari surrogate tersebut. Militer pun bertindak dengan menyerang daerah Dread. Saat terjadi penyerangan, diketahui bahwa Prophet yang selama ini menggaungkan bahwa manusia tidak butuh surrogate, ternyata adalah surrogate.
Greer lalu pergi ke rumah Dr. Canter dan menemukan bahwa yang mengendalikan surrogate Petes dan Prophet adalah Dr. Canter, yang berencana membunuh semua operator surrogate dengan menggunakan virus. Setelah itu Dr. Canter menelan pil sianida lalu Greer mengambil alih surrogate Peters dan bersaha menghentikan virus dengan dibantu oleh Bobby, seorang insinyur komputer. Greer berhasil menghentikannya untuk sementara tapi Greer memilih untuk menonaktifkan semua surrogate sehingga seluruh surrogate di seluruh dunia menjadi nonaktif. Semua masyarakat keluar rumah dan mulai banyak berita bermunculan yang menyatakan bahwa manusia harus dalam melanjutkan kehidupannya tanpa surrogate.

Kecerdasan Buatan yang Terdapat Dalam Film :
Film ini menggambarkan kehidupan manusia yang selalu tinggal di rumah dan menggunakan surrogates (pengganti) dalam beraktivitas untuk membuat kehidupan lebih baik. Dikarenakan banyak sekali orang yang sudah banyak memiliki rasa ketidakpercayaan terhadap satu individu dengan individu yang lainnya. Salah satu faktornya adalah tidak mau terlihat tua oleh yang lain, sehingga para pengguna surrogates ini sama hal nya seperti bermain jejaring sosial di dunia maya. Bisa mengekspresikan dan membuat kustomisasi sesuai selera terhadap surrogates yang dimilikinya. Mungkin kurang lebihnya surrogates ini adalah avatar yang dipakai untuk memberikan suatu identitas para penggunanya di kehidupan sehari-hari.


Resensi Musik





  • "GHOST STORIES" by COLDPLAY

  • Rilis16 May 2014
    Di rekam2012–14; The Bakery and The Beehive (London, England)
    GenreAlternative rockelectronica
    Waktu42:37
    LabelParlophone
    Produser

    Daftar Lagu
    1. "Always in My Head" 
    2. "Magic"
    3. "Ink" 
    4. "True Love" 
    5. "Midnight" 
    6. "Another's Arms" 
    7. "Oceans"
    8. "A Sky Full of Stars" 
    9. "O"
  • SUMBER: 1, 2
  • Kamis, 01 Mei 2014

    Tugas 3 - Karya ilmiah dan Non-Ilmiah



    Karangan Ilmiah
    Definisi :
    Suatu karangan yang berdasarkan penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah.
    Ciri :
    1. Objektif.

    Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memverifikasi) kebenaran dan keabsahannya.
    2. Netral.

    Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
    3. Sistematis.

    Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demikian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
    4. Logis.

    Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
    5. Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan).

    Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
    6. Tidak Pleonastis

    Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat kata-katanya atau tidak berbelit-belit (langsung tepat menuju sasaran).
    7. Bahasa yang digunakan adalah ragam formal.
    Contoh Bentuk :
    • Skripsi
    • Tesis
    • Disertasi
    Karangan non Ilmiah
    Definisi :
    Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
    Ciri :
    • Ditulis berdasarkan fakta pribadi
    • Fakta yang disimpulkan subyektif
    • Gaya bahasa konotatif dan populer
    • Tidak memuat hipotesis
    • Penyajian dibarengi dengan sejarah
    • Bersifat imajinatif
    • Situasi didramatisir
    • Bersifat persuasif
    • Tanpa dukungan bukti
    Contoh bentuk :
    • Dongeng
    • Cerpen
    • Novel
    • Drama
    • Roman
    Perbedaan :
    Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun non ilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
    Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. Pertama, karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri. Kedua, karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi. Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
    Selain karya ilmiah dan non ilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semi-ilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semi-ilmiah ini dengan karangan ilmiah dan non ilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semi-ilmiah, ilmiah, dan non ilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semi-ilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semi-ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi-ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semi-ilmiah.
    Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semi-ilmiah, dan non ilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semi-ilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan non ilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
    Karya non ilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan non ilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya non formal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya non ilmiah bersifat (1) emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi, (2) persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative, (3) deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan (4) jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.

    SUMBER : 1, 2, 3

    Tugas 4 - Skripsi, Tesis, dan Disertasi

    Skripsi merupakan karya tulis ilmiah hasil penelitian dan/atau percobaan yang disusun oleh mahasiswa di bawah bimbingan dosen pembimbing skripsi dan dipertanggung-jawabkan dalam suatu Sidang Ujian Akhir Program untuk memenuhi persyaratan memperoleh derajat kesarjanaan strata satu (S1). Skripsi sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).
    Tesis adalah salah satu karya ilmiah tertulis yang disusun mahasiswa secara individual berdasarkan hasil penelitian empiris untuk dijadikan bahan kajian akademis. Tesis adalah pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen-argumen untuk dikemukakan, merupakan hasil dari studi yang sistematis atas masalah, tesis mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan kesimpulan serta mengajukan rekomendasi. Tesis adalah karya ilmiah yang disyaratkan untuk lulus pendidikan jenjang S2.
    Disertasi adalah karya ilmiah mahasiswa untuk jenjang pendidikan S3 yang berupaya menciptakan suatu teori baru dengan menguji hipotesis yang disusun berdasarkan teori yang sudah ada. Disertasi berupa paparan diskusi yang menyertai sebuah pendapat atau argumen.
    Perbedaan :
    Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berat bobot akademisnya daripada skripsi. Ketentuan ini hanya dapat diberlakukan untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau sama-sama hasil penelitian kualitatif; dan dalam bidang studi yang sama pula (misalnya sama-sama tentang bahasa atau sama-sama tentang ekonomi). Artinya, disertasi mencakup bahasan yang lebih luas daripada tesis, dan tesis mencakup bahasan yang lebih luas atau lebih dalam daripada skripsi. Namun ukuran kuantitas ini tidak dapat diberlakukan jika skripsi, tesis, dan disertasi dibanding-bandingkan antarbidang studi atau antarjenis penelitian. Oleh karena itu perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidak hanya dilihat dari aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.
    Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional. Berikut dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan skripsi, tesis, dan disertasi, terutama yang merupakan hasil penelitian kuantitatif.
    Aspek Permasalahan

    Penulis disertasi dituntut untuk mengarahkan permasalahan yang dibahas dalam disertasinya agar temuannya dapat memberikan sumbangan “asli” bagi ilmu pengetahuan, sedangkan penulis tesis diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Sumbangan yang demikian itu tidak dituntut dari penulis skripsi.
    Identifikasi masalah untuk skripsi dapat didasarkan atas informasi dari koran, majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan, akan tetapi identifikasi masalah untuk tesis—terlebih lagi untuk disertasi—perlu didasarkan atas teori-teori yang berasal dari sejumlah hipotesis yang telah teruji. Masalah yang dikaji dalam skripsi cenderung pada masalah-masalah yang bersifat penerapan ilmu, sedangkan dalam tesis dan disertasi harus cenderung ke arah pengembangan ilmu.
    Aspek Kajian Pustaka

    Dalam mengemukakan hasil kajian pustaka, penulis skripsi hanya diharapkan untuk menjelaskan keterkaitan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian lain dengan topik yang sama. Penulis tesis tidak hanya diharapkan mengemukakan keterkaitannya saja, tetapi juga harus menyebutkan secara jelas persamaan dan perbedaan antara penelitiannya dengan penelitian lain yang sejenis. Penulis disertasi diharapkan dapat (a) mengidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas, (b) mengemukakan pendapat pribadinya setiap kali membahas hasil-hasil penelitian lain yang dikajinya, (c) menggunakan kepustakaan dari disiplin ilmu lain yang dapat memberikan implikasi terhadap penelitian yang dilakukan, dan (d) memaparkan hasil pustakanya dalam kerangka berpikir yang konseptual dengan cara yang sistematis.
    Pustaka yang dijadikan sumber acuan dalam kajian pustaka pada skripsi seyogyanya menggunakan sumber primer dan dapat juga menggunakan sumber sekunder, namun pustaka yang menjadi bahan acuan dalam tesis diharapkan berasal dari sumber-sumber primer (hasil-hasil penelitian dalam laporan penelitian, seminar hasil penelitian, dan jurnal-jurnal penelitian). Untuk disertasi, penggunaan sumber primer merupakan keharusan.
    Aspek Metodologi Penelitian

    Penulis skripsi dituntut untuk menyebutkan apakah sudah ada upaya untuk memperoleh data penelitian secara akurat dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang valid. Bagi penulis tesis, penyebutan adanya upaya saja tidak cukup. Dia harus menyertakan bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan untuk menyatakan bahwa instrumen pengumpul data yang digunakan cukup valid. Bagi penulis disertasi, bukti-bukti validitas instrumen pengumpul data harus dapat diterima sebagai bukti-bukti yang tepat.
    Dalam skripsi, penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data tidak harus dikemukakan, sedangkan dalam tesis dan terlebih lagi dalam disertasi penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data harus dikemukakan, beserta alasan-alasannya, sejauh mana penyimpangan tersebut, dan sejauh mana penyimpangan tersebut masih dapat ditoleransi.
    Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam skripsi tidak harus diverifikasi dan tidak harus disebutkan keterbatasan keberlakuannya, sedangkan asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam tesis, terlebih lagi dalam disertasi, harus diusahakan verifikasinya dan juga harus dikemukakan keterbatasan keberlakuannya.
    Dalam penelitian kuantitatif, skripsi dapat mencakup satu variabel saja, tesis dua variabel atau lebih, sedangkan disertasi harus mencakup lebih dari dua variabel. Namun kriteria ini harus disesuaikan dengan permasalahan yang dikaji. Dalam penelitian kualitatif, skripsi dapat ditulis berdasarkan studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja, sedangkan tesis dan terutama disertasi seyogyanya didasarkan pada studi multikasus dan multisitus.
    Aspek Hasil Penelitian

    Hasil penelitian yang dipaparkan dalam kesimpulan skripsi harus didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Dalam tesis dan disertasi, hasil penelitian yang dikemukakan, selain didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, juga harus dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang sejenis. Oleh karena itu dalam tesis dan disertasi perlu ada bab tersendiri yang menyajikan pembahasan hasil penelitian. Bab yang berisi pembahasan hasil penelitian diletakkan sesudah bab yang berisi sajian hasil analisis data, sebelum bab yang berisi kesimpulan dan saran. 
    Pengajuan saran pada bagian akhir skripsi tidak harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil penelitian, sedangkan saran-saran yang dikemukakan dalam tesis dan disertasi harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
    Hasil penelitian skripsi yang ditulis dalam bentuk artikel hendaknya diarahkan untuk dapat diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang bermutu, sedangkan hasil penelitian tesis dan disertasi harus memenuhi kualifikasi layak terbit dalam jurnal ilmiah yang bermutu.
    Aspek Kemandirian

    Selain didasarkan pada keempat aspek tersebut, skripsi, tesis, dan disertasi juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kemandirian mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan naskah karya ilmiah. Secara umum dapat dinyatakan bahwa proses penelitian dan penulisan disertasi lebih mandiri daripada tesis, dan proses penelitian dan penulisan tesis lebih mandiri daripada skripsi. Secara kuantitatif dapat diilustrasikan sebagai berikut. Untuk disertasi kira-kira 90% dari naskah tersebut adalah karya asli mahasiswa penulisnya, sedangkan sisanya (10%) merupakan cerminan dari bantuan, bimbingan, serta arahan para dosen pembimbing. Untuk tesis, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada disertasi; dan untuk skripsi, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada tesis.
    Artikel, Makalah, dan Laporan Penelitian

    Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dari hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis skripsi, tesis, dan disertasi sangat dianjurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk artikel untuk diterbitkan dalam jurnal. Tata cara penulisan artikel ilmiah diuraikan pada Bagian III buku pedoman ini.
    Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.
    Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian.
    SUMBER: 1, 2, 3

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More