IDN-AUS Latihan Bersama Pesawat Tempur

TNI AU menerbangkan enam pesawat tempur F-16. Sementara RAAF (Royal Australian Air Force) menurunkan delapan pesawat tempur jenis F-18 Hornet.

Rugby Masuk Sekolah

Awalnya hanya sebuah kebiasaan yang dibawa oleh mahasiswa Indonesia yang baru lulus kuliah di Australia. Mereka berpikir, rasanya seru dan nggak masalah juga kalo rugby ini dimainkan oleh negeri sendiri.

Kejuaraan Pacuan Kuda KAPOLRI CUP 2011

Sutan Agogo menang tipis atas Blezing BMW pada Kelas Derby Piala Champion Serie 2. Hal ini membuat pacuan kuda Indonesian Derby 2011 akan berlangsung seru karena hampir semua kuda memiliki kesempatan yang hampir merata.

Klasemen Major League Baseball

Sabtu, 8 Oktober 2011. Detroit @ Texas | TBD | FOX | StubHub | Verlander vs Wilson

Membaca Adalah Jendela Dunia

Dengan membaca, wawasan kita akan semakin bertambah. Dengan wawasan kita yang semakin bertambah, maka derajat sosial kita akan meningkat. Sehingga kita akan lebih disegani oleh masyarakat. Dan jangan lupa berbagi ilmu yang kita dapat.

Senin, 09 Juni 2014

Resensi Film Surrogates





Judul Film       
 Surrogates

Genre/Jenis     
Aksi/Fiksi Ilmiah

Sutradara        
Jonathan Mostow

Produser        
·         David Hoberman
·         Todd Lieberman
·         Max Handelman
·         Elizabeth Banks

Penulis            
·         John Brancato
·         Michael Ferris (Naskah)
·         Robert Venditti (Cerita)

Pemeran         
·         Bruce Willis          (Tom Greer)
·         Radha Mitchell     (Jennifer Peters)
·         Rosamund Pike     (Maggie Greer)
·         Boris Kodjoe         (Andrew Stone)
·         Jack Noseworthy  (Miles Strickland)
·         James Cromwell    (Lionel Canter)
·         Ving Rhames        (Prophet)

Musik             
Richard Marvin

Sinematografi 
Oliver Wood

Penyunting    
·         Kevin Stitt
·         Barry Zetlin
·         Studio Mandeville Films
·         Top Shelf Productions
·         Wintergreen Productions

Distribusi        
Touchstone Pictures

Tanggal rilis 
·         24 Sep 2009 (Luar Amerika Serikat)
·         25 Sep 2009 (Amerika Serikat)

Durasi             
89 menit

Asal Negara            
Amerika Serikat

Bahasa            
Inggris

Anggaran       
$80 juta

Pendapatan   
$122.444.772


   
Resensi :
Film ini bermula dari penciptaan surrogate yang memicu munculnya para pendukung maupun penolaknya. Dalam Film ini Bruce Willis, berperan sebagai Greer, dan Radha Mithcell, sebagai Peters, menerima kasus tentang rusaknya dua buah surrogate. Saat dilacak, operator dari surrogate tersebut ternyata telah tewas dengan keadaan yang mengenaskan. Salah satu operatornya adalah putera dari Lionel Canter, penemu surrgate. Greer pun berkesimpulan dari video surrogate sebelum rusak, bahwa meninggalnya operator adalah sebuah pembunuhan.
Melalui penyelidikan lebih lanjut Greer menemukan bahwa laki-laki yang membunuh operator itu bernama Miles Strickland. Saat mengejar Miles Strickland, surrogate dari Greer pun rusak karena alat tersebut, untungnya Greer selamat dan terus melakukan pengejaran, kali ini tanpa surrogate. Greer akhirnya menemukan bahwa Strickland membunuh menggunakan sebuah benda yang sangat canggih. Untuk menyelidiki hal tersebut, Greer pun pergi ke daerah Dread (daerah orang-orang yang menolak surrogate). Di sana ia melihat surrogatenya telah dipancang di salib, setelah itu ia melihat Prophet dan berbincang dengannya. Prophet menjanjikan akan memberikan alat tersebut jika ditemukan. Pada saat yang sama agen Jennifer Peters dibunuh dan surrogatenya diambil alih oleh orang tak dikenal. Ternyata orang tersebut adalah Lionel Canter.
Greer akhirnya melaporkan alat itu kepada militer dan militer menjelaskan bahwa alat itu bernama OD (Overload Device) yang membuat sistem pengaman anti-kegagalan surrogate tertembus dan mampu membunuh operator dari surrogate tersebut. Militer pun bertindak dengan menyerang daerah Dread. Saat terjadi penyerangan, diketahui bahwa Prophet yang selama ini menggaungkan bahwa manusia tidak butuh surrogate, ternyata adalah surrogate.
Greer lalu pergi ke rumah Dr. Canter dan menemukan bahwa yang mengendalikan surrogate Petes dan Prophet adalah Dr. Canter, yang berencana membunuh semua operator surrogate dengan menggunakan virus. Setelah itu Dr. Canter menelan pil sianida lalu Greer mengambil alih surrogate Peters dan bersaha menghentikan virus dengan dibantu oleh Bobby, seorang insinyur komputer. Greer berhasil menghentikannya untuk sementara tapi Greer memilih untuk menonaktifkan semua surrogate sehingga seluruh surrogate di seluruh dunia menjadi nonaktif. Semua masyarakat keluar rumah dan mulai banyak berita bermunculan yang menyatakan bahwa manusia harus dalam melanjutkan kehidupannya tanpa surrogate.

Kecerdasan Buatan yang Terdapat Dalam Film :
Film ini menggambarkan kehidupan manusia yang selalu tinggal di rumah dan menggunakan surrogates (pengganti) dalam beraktivitas untuk membuat kehidupan lebih baik. Dikarenakan banyak sekali orang yang sudah banyak memiliki rasa ketidakpercayaan terhadap satu individu dengan individu yang lainnya. Salah satu faktornya adalah tidak mau terlihat tua oleh yang lain, sehingga para pengguna surrogates ini sama hal nya seperti bermain jejaring sosial di dunia maya. Bisa mengekspresikan dan membuat kustomisasi sesuai selera terhadap surrogates yang dimilikinya. Mungkin kurang lebihnya surrogates ini adalah avatar yang dipakai untuk memberikan suatu identitas para penggunanya di kehidupan sehari-hari.


Resensi Musik





  • "GHOST STORIES" by COLDPLAY

  • Rilis16 May 2014
    Di rekam2012–14; The Bakery and The Beehive (London, England)
    GenreAlternative rockelectronica
    Waktu42:37
    LabelParlophone
    Produser

    Daftar Lagu
    1. "Always in My Head" 
    2. "Magic"
    3. "Ink" 
    4. "True Love" 
    5. "Midnight" 
    6. "Another's Arms" 
    7. "Oceans"
    8. "A Sky Full of Stars" 
    9. "O"
  • SUMBER: 1, 2
  • Kamis, 01 Mei 2014

    Tugas 3 - Karya ilmiah dan Non-Ilmiah



    Karangan Ilmiah
    Definisi :
    Suatu karangan yang berdasarkan penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah.
    Ciri :
    1. Objektif.

    Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memverifikasi) kebenaran dan keabsahannya.
    2. Netral.

    Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
    3. Sistematis.

    Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demikian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
    4. Logis.

    Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
    5. Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan).

    Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
    6. Tidak Pleonastis

    Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat kata-katanya atau tidak berbelit-belit (langsung tepat menuju sasaran).
    7. Bahasa yang digunakan adalah ragam formal.
    Contoh Bentuk :
    • Skripsi
    • Tesis
    • Disertasi
    Karangan non Ilmiah
    Definisi :
    Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
    Ciri :
    • Ditulis berdasarkan fakta pribadi
    • Fakta yang disimpulkan subyektif
    • Gaya bahasa konotatif dan populer
    • Tidak memuat hipotesis
    • Penyajian dibarengi dengan sejarah
    • Bersifat imajinatif
    • Situasi didramatisir
    • Bersifat persuasif
    • Tanpa dukungan bukti
    Contoh bentuk :
    • Dongeng
    • Cerpen
    • Novel
    • Drama
    • Roman
    Perbedaan :
    Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun non ilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
    Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. Pertama, karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri. Kedua, karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi. Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
    Selain karya ilmiah dan non ilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semi-ilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semi-ilmiah ini dengan karangan ilmiah dan non ilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semi-ilmiah, ilmiah, dan non ilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semi-ilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semi-ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi-ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semi-ilmiah.
    Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semi-ilmiah, dan non ilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semi-ilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan non ilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
    Karya non ilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan non ilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya non formal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya non ilmiah bersifat (1) emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi, (2) persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative, (3) deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan (4) jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.

    SUMBER : 1, 2, 3

    Tugas 4 - Skripsi, Tesis, dan Disertasi

    Skripsi merupakan karya tulis ilmiah hasil penelitian dan/atau percobaan yang disusun oleh mahasiswa di bawah bimbingan dosen pembimbing skripsi dan dipertanggung-jawabkan dalam suatu Sidang Ujian Akhir Program untuk memenuhi persyaratan memperoleh derajat kesarjanaan strata satu (S1). Skripsi sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).
    Tesis adalah salah satu karya ilmiah tertulis yang disusun mahasiswa secara individual berdasarkan hasil penelitian empiris untuk dijadikan bahan kajian akademis. Tesis adalah pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen-argumen untuk dikemukakan, merupakan hasil dari studi yang sistematis atas masalah, tesis mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan kesimpulan serta mengajukan rekomendasi. Tesis adalah karya ilmiah yang disyaratkan untuk lulus pendidikan jenjang S2.
    Disertasi adalah karya ilmiah mahasiswa untuk jenjang pendidikan S3 yang berupaya menciptakan suatu teori baru dengan menguji hipotesis yang disusun berdasarkan teori yang sudah ada. Disertasi berupa paparan diskusi yang menyertai sebuah pendapat atau argumen.
    Perbedaan :
    Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berat bobot akademisnya daripada skripsi. Ketentuan ini hanya dapat diberlakukan untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau sama-sama hasil penelitian kualitatif; dan dalam bidang studi yang sama pula (misalnya sama-sama tentang bahasa atau sama-sama tentang ekonomi). Artinya, disertasi mencakup bahasan yang lebih luas daripada tesis, dan tesis mencakup bahasan yang lebih luas atau lebih dalam daripada skripsi. Namun ukuran kuantitas ini tidak dapat diberlakukan jika skripsi, tesis, dan disertasi dibanding-bandingkan antarbidang studi atau antarjenis penelitian. Oleh karena itu perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidak hanya dilihat dari aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.
    Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional. Berikut dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan skripsi, tesis, dan disertasi, terutama yang merupakan hasil penelitian kuantitatif.
    Aspek Permasalahan

    Penulis disertasi dituntut untuk mengarahkan permasalahan yang dibahas dalam disertasinya agar temuannya dapat memberikan sumbangan “asli” bagi ilmu pengetahuan, sedangkan penulis tesis diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Sumbangan yang demikian itu tidak dituntut dari penulis skripsi.
    Identifikasi masalah untuk skripsi dapat didasarkan atas informasi dari koran, majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan, akan tetapi identifikasi masalah untuk tesis—terlebih lagi untuk disertasi—perlu didasarkan atas teori-teori yang berasal dari sejumlah hipotesis yang telah teruji. Masalah yang dikaji dalam skripsi cenderung pada masalah-masalah yang bersifat penerapan ilmu, sedangkan dalam tesis dan disertasi harus cenderung ke arah pengembangan ilmu.
    Aspek Kajian Pustaka

    Dalam mengemukakan hasil kajian pustaka, penulis skripsi hanya diharapkan untuk menjelaskan keterkaitan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian lain dengan topik yang sama. Penulis tesis tidak hanya diharapkan mengemukakan keterkaitannya saja, tetapi juga harus menyebutkan secara jelas persamaan dan perbedaan antara penelitiannya dengan penelitian lain yang sejenis. Penulis disertasi diharapkan dapat (a) mengidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas, (b) mengemukakan pendapat pribadinya setiap kali membahas hasil-hasil penelitian lain yang dikajinya, (c) menggunakan kepustakaan dari disiplin ilmu lain yang dapat memberikan implikasi terhadap penelitian yang dilakukan, dan (d) memaparkan hasil pustakanya dalam kerangka berpikir yang konseptual dengan cara yang sistematis.
    Pustaka yang dijadikan sumber acuan dalam kajian pustaka pada skripsi seyogyanya menggunakan sumber primer dan dapat juga menggunakan sumber sekunder, namun pustaka yang menjadi bahan acuan dalam tesis diharapkan berasal dari sumber-sumber primer (hasil-hasil penelitian dalam laporan penelitian, seminar hasil penelitian, dan jurnal-jurnal penelitian). Untuk disertasi, penggunaan sumber primer merupakan keharusan.
    Aspek Metodologi Penelitian

    Penulis skripsi dituntut untuk menyebutkan apakah sudah ada upaya untuk memperoleh data penelitian secara akurat dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang valid. Bagi penulis tesis, penyebutan adanya upaya saja tidak cukup. Dia harus menyertakan bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan untuk menyatakan bahwa instrumen pengumpul data yang digunakan cukup valid. Bagi penulis disertasi, bukti-bukti validitas instrumen pengumpul data harus dapat diterima sebagai bukti-bukti yang tepat.
    Dalam skripsi, penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data tidak harus dikemukakan, sedangkan dalam tesis dan terlebih lagi dalam disertasi penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data harus dikemukakan, beserta alasan-alasannya, sejauh mana penyimpangan tersebut, dan sejauh mana penyimpangan tersebut masih dapat ditoleransi.
    Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam skripsi tidak harus diverifikasi dan tidak harus disebutkan keterbatasan keberlakuannya, sedangkan asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam tesis, terlebih lagi dalam disertasi, harus diusahakan verifikasinya dan juga harus dikemukakan keterbatasan keberlakuannya.
    Dalam penelitian kuantitatif, skripsi dapat mencakup satu variabel saja, tesis dua variabel atau lebih, sedangkan disertasi harus mencakup lebih dari dua variabel. Namun kriteria ini harus disesuaikan dengan permasalahan yang dikaji. Dalam penelitian kualitatif, skripsi dapat ditulis berdasarkan studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja, sedangkan tesis dan terutama disertasi seyogyanya didasarkan pada studi multikasus dan multisitus.
    Aspek Hasil Penelitian

    Hasil penelitian yang dipaparkan dalam kesimpulan skripsi harus didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Dalam tesis dan disertasi, hasil penelitian yang dikemukakan, selain didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, juga harus dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang sejenis. Oleh karena itu dalam tesis dan disertasi perlu ada bab tersendiri yang menyajikan pembahasan hasil penelitian. Bab yang berisi pembahasan hasil penelitian diletakkan sesudah bab yang berisi sajian hasil analisis data, sebelum bab yang berisi kesimpulan dan saran. 
    Pengajuan saran pada bagian akhir skripsi tidak harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil penelitian, sedangkan saran-saran yang dikemukakan dalam tesis dan disertasi harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
    Hasil penelitian skripsi yang ditulis dalam bentuk artikel hendaknya diarahkan untuk dapat diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang bermutu, sedangkan hasil penelitian tesis dan disertasi harus memenuhi kualifikasi layak terbit dalam jurnal ilmiah yang bermutu.
    Aspek Kemandirian

    Selain didasarkan pada keempat aspek tersebut, skripsi, tesis, dan disertasi juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kemandirian mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan naskah karya ilmiah. Secara umum dapat dinyatakan bahwa proses penelitian dan penulisan disertasi lebih mandiri daripada tesis, dan proses penelitian dan penulisan tesis lebih mandiri daripada skripsi. Secara kuantitatif dapat diilustrasikan sebagai berikut. Untuk disertasi kira-kira 90% dari naskah tersebut adalah karya asli mahasiswa penulisnya, sedangkan sisanya (10%) merupakan cerminan dari bantuan, bimbingan, serta arahan para dosen pembimbing. Untuk tesis, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada disertasi; dan untuk skripsi, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada tesis.
    Artikel, Makalah, dan Laporan Penelitian

    Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dari hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis skripsi, tesis, dan disertasi sangat dianjurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk artikel untuk diterbitkan dalam jurnal. Tata cara penulisan artikel ilmiah diuraikan pada Bagian III buku pedoman ini.
    Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.
    Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian.
    SUMBER: 1, 2, 3

    Sabtu, 05 April 2014

    Tugas 2 - Contoh Penulisan Deduktif



    PARAGRAF DEDUKTIF



    Pengertian


    Paragraf deduktif adalah paragraf yang mempunyai gagasan pokok di awal paragraf dan diikuti gagasan-gagasan penjelasan. Gagasan pokok paragraf deduktif merupakan pernyataan/kalimat yang bersifat umum. Gagasan penjelas paragraf deduktif merupakan pernyataan-pernyataan/kalimat-kalimat yang bersifat khusus yang mendukung gagasan pokok.

    Dapat disimpulkan bahwa gagasan pokok paragraf deduktif merupakan kesimpulan dari keseluruhan paragraf. Kesimpulan tersebut bersifat umum. Sebaliknya, gagasan penjelasan merupakan perincian yang terletak setelah gagasan utama dan bersifat khusus.


    Paragraf Deduktif

    Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajar akan efentif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai di cari di buku.


    Kalimat utama yang ada dalam contoh paragraf tersebut berada di depan paragraf yaitu “Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional”, sedangkan kalimat-kalimat yang lain adalah kalimat penjelas dari kalimat utama tersebut.


    Contoh:

    Kegiatan ultah panser biru yang ketiga bahkan mencapai klimaksnya. Ketika mereka menggelar jalan santai sepuluh ribu peserta bahkan membirukan kota Semarang. Apalagi panitia telah menyiapkan doorprize besar-besaran. Ada motor, TV, kulkas, VCD player, tape dan ratusan hiburan lainnya. Kegiatan ultah panser biru yang ketiga adalah kalimat utamanya.


    Uraian Paragraf Deduktif

    Paragraf Deduktif memiliki ciri-ciri seperti: Kalimat utama berada di awal paragraf.
    Kalimat disusun dari pernyataan umum yang kemudian disusul dengan penjelasan khusus.

    Cara menulis paragraf deduktif:
    • Tentukan topik atau tema paragraf yang akan dibuat.
    • Susunlah kalimat topik atau gagasan pokok dengan baik dan jelas.
    • Susunlah kalimat-kalimat penjelas untuk menjelaskan gagasan utama. Letakkan kalimat-kalimat penjelas sesudah gagasan pokok
    • Buatlah kerangka karangan.
    • Kembangkan kerangka deduktif menjadi sebuah paragraf deduktif, gunakanlah kalimat yang efektif, diksi yang tepat dan ejaan yang benar.

    SUMBER: 1, 2

    Tugas 1 - Deduktif & Induktif

    PENALARAN


    A. Pengertian


    Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar indera. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengankonklusi (consequence).



    B. Hal-hal yang berhubungan dengan penalaran


    • Induktif
    • Deduktif


    C. Contoh Kasus


    • Dalam pengertian aktivitas seseorang berpikir logis
      Hakim tingkat banding Pengadilan Tinggi Agama menerbitkan putusan sela, dengan memerintahkan kepada ; Pengadilan Agama, untuk melakukan pemanggilan kepada Pembanding dan Terbanding, agar supaya hadir pada persidangan di PTA pada tanggal 23 Maret 2011, guna dimintai keterangannya. Tetapi pada amar putusan sela yang lain, memerintahkan pula kepada Pengadilan Agama untuk melakukan sidang di tempat atas obyek sengketa, yang terletak di daerah Jakarta Selatan, Bandung, Bogor dan Raha, tanpa menyebutkan ketentuan batas waktu.


    • Jangkauan pikir
      Seorang hakim dengan giatnya membaca dan belajar serta selalu mempersiapkan referensi buku-buku hukum, jurnal hukum, baik hukum formal maupun hukum materiil. Bahkan ia sering melakukan diskusi hukum dan juga rajin membaca putusan-putusan hakim melalui yurisprudensi, sehingga pada saatnya nanti ia berharap akan menjadi hakim yang lebih berkualitas dan memiliki integritas moral yang baik. Hakim seperti ini memiliki nalar dan penalaran yang mempersiapkan diri secara lebih strategis untuk kepentingan tugasnya di masa yang akan datang.


    • Kekuatan pikir
      Seorang hakim yang mengikuti program studi S2 atau S3 dalam setiap kegiatan seminar di S2 atau dalam setiap kegiatan di ujian terbuka di program S3. Dari materi ujian promovendus, ia tidak pernah luput dari pengamatannya, baik melalui diskusi maupun melalui bentuk penulisan karya ilmiah. Pada saat ia hadir dalam sebuah seminar, ia dengan mudah memahami substansi materi pembahasan dan berusaha mengajukan tanggapan ataupun pertanyaan yang sangat mudah dipahami oleh orang lain. Mahasiswa seperti ini memiliki kemampuan nalar dan penalaran yang baik untuk menunjang kesuksesan program studinya di masa yang akan datang.


    • Menggunakan nalar atau pemikiran logis
      Seorang pejabat perbankan di persidangan pengadilan negeri dan ia bertindak sebagai saksi, lalu hakim mencecarnya dengan pertanyaan yang beruntun. Lalu oleh saksi tersebut, menjawab dengan tenangnya bahwa dirinya lupa...., lupa...., lupa.... dan seterusnya, bahkan kadang saksi tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak tahu. Hakim yang menyidangkan perkara ini harus memiliki nalar dan penalaran yang baik, bahwa sangat tidak logis, seorang saksi mengatakan ; lupa, lupa, lupa atau bahkan tidak tahu, padahal ia berkedudukan sebagai salah seorang subyek hukum dalam perkara ini.

      Nalarpun berkata, mana mungkin para terdakwa yang terdiri dari beberapa orang anggota DPR telah divonis bersalah karena menerima sejumlah uang suap dan telah dijatuhi hukuman pidana penjara antara satu sampai dua tahun, kalau tidak ada orang yang memberi suap. Hakim harus membentuk atau membangun sebuah penalaran terhadap kemungkinan adanya saksi-saksi yang terlibat memberi suap atas kasus ini.



    PENALARAN INDUKTIF


    Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, alumunium, tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanaskan akan bertambah panjang. Biasanya penalaran induktif ini disusun berdasarkan pengetahuan yang dianut oleh penganut empirisme.

    Contoh penalaran induktif adalah:

    Kerbau punya mata. Anjing punya mata. Kucing punya mata. 
    Setiap hewan punya mata 

    Penalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistik.
    Induktif terbagi 3 macam,yaitu:


    A. Generalisasi 

    Pada generalisasi tersebut,peristiwa yang kita kemukakan harus memadai agar yang kita tarik adalah kesimpulan yang terpercaya suatu kebenarannya. Generalisasi mencakup ciri-ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta.Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki. ( Mundiri, 1994 : 127 )

    Menurut Gorys Keraf dalam buku Argumentasi dan Narasi, Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tadi. ( Gorys Keraf, 1994 : 43 )

    1.  Generalisasi Sempurna, adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki semua, contoh. Semua bulan masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31 hari. Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena, yaitu jumlah hari pada setiap bulan dalam satu tahun diselidiki tanpa ada yang ditinggalkan. Generalisasi semacam ini, memberikan kesimpulan yang sangat kuat dan tidak dapat dipatahkan tetapi prosesnya tidak praktis dan tidak ekonomis.

    2. Generalisasi Sebagian, yaitu generalisasi dimana kesimpulannya diambil berdasarkan sebagian fenomena yang kesimpulanya berlaku juga bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki, misalnya. Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia adalah menusia yang suka bergotong-royong kemudian diambil kesimpulan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi sebagian (probabilitas).

    Generalisasi juga bisa dibedakan dari segi bentuknya ada 2, yaitu: 

    Loncatan induktif dan yang bukan loncatan induktif. (Gorys Keraf, 1994 : 44-45)

    1. Loncatan Induktif
    Generalisasi yang bersifat loncatan induktif tetap bertolak dari beberapa fakta, namun fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Fakta-fakta tersebut atau proposisi yang digunakan itu kemudian dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan.

    Contoh : Siska suka berenang. Deni juga suka berenang. Reni suka main bola. Teti suka main bulutangkis. Dapat disimpulkan bahwa anak-anak komplek bahari suka olahraga.

    2. Tanpa Loncatan Induktif
    Sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali. Misalnya, untuk menyelidiki bagaimana sifat-sifat orang Indonesia pada umumnya, diperlukan ratusan fenomena untuk menyimpulkannya.

    Contoh: Rika suka bermain bola basket. Rino juga suka bermain bola basket. Tino suka bermain sepak bola. Jadi dapat disimpulkan ke tiga anak tersebut menyukai permainan bola.


    B. Analogi
    Dalam analogi, kita membandingkan dua macam hal.Dalam penalaran ini kita hanya memperhatikan persamaannya,tanpa memperhatikan perbedaannya.Jadi,kesimpulan yang didapat didasarkan pada persamaan diantara dua hal yang berbeda. Proses penalaran untuk menarik kesimpulan/referensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial penting yang bersamaan.

    Tujuan dari penalaran secara analogi yakni ;
    • Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan
    • Analogi dilakukan untuk menyingkap kekeliruan
    • Analogi dilakukan untuk menyusun klasifikasi

    Contoh: Alam semesta berjalan dengan sangat teratur seperti halnya mesin. Matahari, bumi, bulan dan bintang berjuta jumlahnya beredar dengan teratur, seperti halnnya roda mesin yang rumit berputar. Semua bergerak mengikuti irama tertentu. Mesin rumit pada penciptanya yaitu manusia. Manusia yang pandai,teliti,bijaksana. Tidakkah alam yang maha besar dan beredar rapi sepanjang masa inni tidak pula ada penciptanya? Pencipta yang Maha Pandai, Maha Teliti, dan Maha Agung?

    C. Kausal
    Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Dengan menghubungkan fakta yang satu dengan fakta yang lainnya. Sampai pada kesimpulan yang menjadi sebab dari fakta itu. Atau dpat juga kita sampai pada akibat dari fakta itu. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah yaitu sebagai berikut:

    1) Sebab-Akibat
    Sebab akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping ini pola seperti ini juga dapat menyebabkan B, C, D dan seterusnya. Jadi, efek dari suatu peristiwa yang diaanggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan penalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab yang tidak jelas terhadap suatu akibat yang nyata.

    2) Akibat-Sebab
    Akibat sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Kedokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab. Jadi hampir mirip dengan entimen. Akan tetapi dalam penalaran jenis akibat sebab ini, Peristiwa sebab merupaka simpulan.

    3) Akibat-Akibat
    Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu akibat yang lain.

    Contoh: 
    Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek, ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah. Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan yaitu hari hujan.



    PENALARAN DEDUKTIF

    Penalaran deduktif adalah metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
    A. Faktor – faktor penalaran deduktif :
    • Pembentukan Teori
    • Hipotesis
    • Definisi Operasional
    • Instrumen
    • Operasionalisasi
    B. Variabel pada penalaran deduktif
    1. Silogisme Kategorial
    • Silogisme kategorial: Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
    • Premis umum: Premis Mayor (My)
    • Premis khusus: Premis Minor (Mn)
    • Premis simpulan: Premis Kesimpulan (K)
    • Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

    2. Silogisme Hipotesis
    • Silogisme hipotesis: Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
    • Konditional hipotesis: Bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
    3. Silogisme Alternatif
    • Silogisme alternatif: Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
    • Proposisi alternatif: Bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
    4. Entimen
    Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

    C. Contoh Kalimat Deduktif
    • Burung adalah hewan berkaki dua (premis minor)
    • Semua burung bisa terbang (kesimpulan)
    • Burung adalah hewan (premis mayor)


    SUMBER: 1, 2, 3

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More