IDN-AUS Latihan Bersama Pesawat Tempur

TNI AU menerbangkan enam pesawat tempur F-16. Sementara RAAF (Royal Australian Air Force) menurunkan delapan pesawat tempur jenis F-18 Hornet.

Rugby Masuk Sekolah

Awalnya hanya sebuah kebiasaan yang dibawa oleh mahasiswa Indonesia yang baru lulus kuliah di Australia. Mereka berpikir, rasanya seru dan nggak masalah juga kalo rugby ini dimainkan oleh negeri sendiri.

Kejuaraan Pacuan Kuda KAPOLRI CUP 2011

Sutan Agogo menang tipis atas Blezing BMW pada Kelas Derby Piala Champion Serie 2. Hal ini membuat pacuan kuda Indonesian Derby 2011 akan berlangsung seru karena hampir semua kuda memiliki kesempatan yang hampir merata.

Klasemen Major League Baseball

Sabtu, 8 Oktober 2011. Detroit @ Texas | TBD | FOX | StubHub | Verlander vs Wilson

Membaca Adalah Jendela Dunia

Dengan membaca, wawasan kita akan semakin bertambah. Dengan wawasan kita yang semakin bertambah, maka derajat sosial kita akan meningkat. Sehingga kita akan lebih disegani oleh masyarakat. Dan jangan lupa berbagi ilmu yang kita dapat.

Jumat, 25 Januari 2013

Manajemen Proyek Perbankan

Manajemen

Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti “mengendalikan,” terutamanya “mengendalikan kuda” yang berasal dari bahasa latin manus yang berati “tangan”. Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti “kepemilikan kuda” (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia. Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. 


Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman.


Proyek


Pengertian proyek secara umum adalah merupakan sebuah kegiatan pekerjaan yang dilaksanakan atas dasar permintaan dari seorang pebisnis atau pemilik pekerjaan yang ingin mencapai suatu tujuan tertentu dan dilaksanakan oleh pelaksana pekerjaan sesuai dengan keinginan dari pada pebisnis atau pemilik proyek dan spesifikasi yang ada. Dalam pelaksanaan proyek pemilik proyek dan pelaksana proyek memiliki hak yang diterima dan kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan batasan waktu yang telah disetujui bersama antar pemilik proyek dan pelaksana proyek.


Proyek juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan dengan maksud untuk melakukan suatu tugas yang telah digariskan. Sedangkan proyek konstruksi adalah proyek yang berkaitan dengan upaya pembangunan suatu bangunan infrastrukfur, yang umumnya mencakup pekerjaan pokok yang termasuk dalam bidang tekhnik sipil dan arsitektur, meskipun tidak jarang melibatkan disiplin lain seperti teknik industri mesin, elektro, geo tekhnik, dan sebagainya.

Jenis proyek dapat dikelompokkan dilihat dari komponen utamanya sebagai berikut :

  • Proyek Engineering-Konstruksi. Komponen kegiatan utama jenis proyek ini terdiri dari pengkajian kelayakan, desain engineering, pengadaan, dan konstruksi, Contoh proyek ini adalah pembangunan gedung, jembatan, pelabuhan, jalan raya, fasilitas industri.
  • Proyek Engineering-Manufaktur. Proyek ini dimaksudkan untuk menghasilkan produk baru. Jadi, produk tersebut adalah hasil usaha kegiatan proyek. Kegiatan utamanya meliputi: desain engineering, pengembangan produk (product development), manufaktur, perakitan, uji coba fungsi dan operasi produk yang dihasilkan.
  • Proyek Penelitian dan Pengembangan. Jenis proyek ini bertujuan melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka menghasilkan suatu produk tertentu. Dalam mengejar proses akhir, proyek ini seringkali menempuh proses yang berubah-ubah, demikian pula dengan lingkup kerjanya.
  • Proyek Pelayanan Manajemen. Kegiatan utama jenis proyek ini adalah merancang sistem informasi manajemen, meliputi perangkat lunak ataupun perangkat keras, merancang program efisiensi dan penghematan, serta melakukan divertifikasi, penggabungan dan pengambil alihan.
  • Proyek Kapital. Proyek kapital meliputi pembebasan tanah, penyiapan lahan, pembelian material dan peralatan (mesin-mesin), manufaktur (pabrikasi), dan konstruksi pembangunan fasilitas produksi.
  • Proyek Radio-Telekomunikasi. Proyek ini dimaksudkan untuk membangun jaringan telekomunikasi yang dapat menjangkau area yang luas dengan biaya yang relatif kecil.
  • Proyek Konservasi Bio-Deversity. Proyek ini berkaitan dengan usaha pelestarian lingkungan. Salah satu pendekatan yang terkenal adalah aplikasi system IPAS (lntegrated Prosected Area System) yaitu menentukan daerah yang di lindungi.

Kegiatan proyek biasanya dilakukan untuk berbagai bidang antara lain sebagai berikut:


  • Pembangunan fasilitas baru. Artinya merupakan kegiatan yang benar-benar baru dan belum pernah ada sebelumnya, sehingga ada penambahan usaha baru.

  • Perbaikan fasilitas yang sudah ada. Merupakan kelanjutan dan usaha yang sudah ada sebelumnya. Artinya sudah ada kegiatan sebelumnya, namun perlu dilakukan tambahan atau perbaikan yang diinginkan.

  • Penelitian dan pengembangan. Merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan untuk suatu fenomena yang muncul di masyarakat, lalu dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Dalam prakteknya, timbulnya suatu proyek disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:


  • Adanya permintaan pasar. Artinya adanya suatu kebutuhan dan keinginan dalam masyarakat yang harus disediakan. Hal mi disebabkan karena jenis produk yang tersedia belum mencukupi atau memang belum ada sama sekali.

  • Untuk meningkatkan kualitas produk. Bagi perusahaan tertentu proyek dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas atau mutu suatu produk. Hal mi dilakukan karena tingginya tingkat persaingan yang ada.

  • Kegiatan pemerintah. Artinya merupakan kehendak pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat atas suatu produk atau jasa, sehingga perlu disediakan berbagai produk melalui proyek— proyek tertentu.

Dalam segala hal selalu dibutuhkan pengaturan,pengelolaan dan pengarahan agar tidak menyimpang dari jalan yang seharusnya. Begitu juga dengan proyek, agar proyek yang dikerjakan bisa bermanfaat maka dibutuhkan pengelolaan yang baik. Jadi manajemen proyek itu merupakan cara mengorganisir atau mengelola segala sesuatu tentang proyek, dari awal pengerjaan hingga selesai.

Pada kesimpulannya bahwa pengertian manajemen proyek dan risiko adalah koordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, penetapan tenaga kerja atau yang di maksud SDM, pengarahan dan pengawasan untuk mencapai suatu tujuan atas dasar permintaan dari seorang pebisnisr atau pemilik pekerjaan yang memperkirakan suatu ketidakpastian di masa yang akan datang tentang kerugian.


Manajemen proyek merupakan suatu usaha merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, mengkoordinasi, dan mengawasi kegiatan dalam proyek sedemikian rupa sehingga sesuai dengan jadwal waktu dan anggaran yang telah ditetapkan.   


Alasan pemilihan manajemen proyek 
  • Tingkat kesulitan dalam tugas-tugas yang diperintahkan meningkat. 
  • Cepatnya perkembangan teori maupun praktek. 
  • Biaya meningkat, lamanya bisa dipakai suatu barang menurun dan hilangnya nilai suatu barang. 
  • Resiko-resiko dan biaya-biaya proyek di masa datang dapat turun. 

Karakteristik Sebuah Proyek  
  • Mempunyai tujuan yang jelas, menuju atau membuat prubahan,atau pun produk baru.
  • Semua kegiatannya di batasi waktu yang telah ditentukan, sifatnya sementara, dan diketahui kapan waktu mulai dan berakhirnya suatu proyek.
  • Pengerjaanya di batasi oleh waktu,biaya,atau budget, dan juga kualitas.
  • Biasanya tidak berulang-ulang.
  • Memerlukan struktur organisasi temporari.   

Macam-macam Proyek
  • Proyek Kapital (Modal) Meliputi : pembebasan tanah, pembelian material dan peralatan, desain mesin, dan kostruksi guna pembangunan instalasi pabrik baru. 
  • Proyek pengembangan produk baru
    Adalah kegiatan untuk menciptakan produk baru yang biasanya merupakan gabungan antara proyek kapital dan proyek riset dan pengembangan. Contoh : penemuan alat elektronik karaoke. 
  • Proyek penelitian dan pengembangan
    Berupa kegiatan untuk melakukan penelitian dengan sasaran yang ditentukan. 
  • Proyek sistem informasi
    Adalah kegiatan yang sifatnya spesifik dengan mempergunakan alat-alat pemrosesan data (data processing personal dan alat-alat lainnya. 
  • Proyek yang berkaitan dengan manajemen
    Perusahaan merancang reorganisasi, perusahaan merancang program efisiensi, dan penghematan merancang diversifikasi.

Proses Manajemen Proyek

Pendekatan mengenai tahapan proyek secara umum adalah mengidentifikasi urutan langkah yang harus diselesaikan. Dalam "pendekatan tradisional" ini, lima komponen perkembangan proyek dapat dibedakan (empat tahap ditambah kontrol) dan ditambah lagi tahapan penyelesaian proyek, yang dapat juga dapat disebut "Siklus Kehidupan Proyek" (Project Life Cycle). Secara umum, siklus hidup proyek merupakan suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana sebuah proyek direncanakan, dikontrol, dan diawasi sejak proyek disepakati untuk dikerjakan hingga tujuan akhir proyek tercapai. Terdapat lima tahap kegiatan utama yang dilakukan dalam siklus hidup proyek yaitu :

  • Inisiasi
  • Perencanaan dan desain
  • Pelaksanaan dan konstruksi
  • Pemantauan dan sistem pengendalian
  • Penyelesaian

Tahap Inisiasi
Tahap inisiasi proyek merupakan tahap awal kegiatan proyek sejak sebuah proyek disepakati untuk dikerjakan. Pada tahap ini, permasalahan yang ingin diselesaikan akan diidentifiasi. Beberapa pilihan solusi untuk menyelesaikan permasalahan juga didefinisikan. Sebuah studi kelayakan dapat dilakukan untuk memilih sebuah solusi yang memiliki kemungkinan terbesar untuk direkomendasikan sebagai solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika sebuah solusi telah ditetapkan, maka seorang manajer proyek akan ditunjuk sehingga tim proyek dapat dibentuk.

Tahap Perencanaan dan Desain
Ketika ruang lingkup proyek telah ditetapkan dan tim proyek terbentuk, maka aktivitas proyek mulai memasuki tahap perencanaan. Pada tahap ini, dokumen perencanaan akan disusun secara terperinci sebagai panduan bagi tim proyek selama kegiatan proyek berlangsung. Adapun aktivitas yang akan dilakukan pada tahap ini adalah membuat dokumentasi project plan, resource plan, financial plan, risk plan, acceptance plan, communication plan, procurement plan, contract supplier dan perform phare review.

Tahap Eksekusi (Pelaksanaan proyek dan/atau Konstruksi) 
Dengan definisi proyek yang jelas dan terperinci, maka aktivitas proyek siap untuk memasuki tahap eksekusi atau pelaksanaan proyek. Pada tahap ini, deliverables atau tujuan proyek secara fisik akan dibangun. Seluruh aktivitas yang terdapat dalam dokumentasi project plan akan dieksekusi.

Tahap Pemantauan dan sistem Pengendalian
Sementara kegiatan pengembangan berlangsung, beberapa proses manajemen perlu dilakukan guna memantau dan mengontrol penyelesaian deliverables sebagai hasil akhir proyek.

Tahap Penutupan
Tahap ini merupakan akhir dari aktivitas proyek. Pada tahap ini, hasil akhir proyek (deliverables project) beserta dokumentasinya diserahkan kepada pelanggan, kontak dengan supplier diakhiri, tim proyek dibubarkan dan memberikan laporan kepada semua stakeholder yang menyatakan bahwa kegiatan proyek telah selesai dilaksanakan. Langkah akhir yang perlu dilakukan pada tahap ini yaitu melakukan post implementation review untuk mengetahui tingkat keberhasilan proyek dan mencatat setiap pelajaran yang diperoleh selama kegiatan proyek berlangsung sebagai pelajaran untuk proyek-proyek dimasa yang akan dating.
Organisasi Proyek Tahapan ini merupakan tahapan sebuah proyek sebelum kemudian ditutup (penyelesaian). Namun tidak semua proyek akan melalui setiap tahap, artinya proyek dapat dihentikan sebelum mereka mencapai penyelesaian. Beberapa proyek tidak mengikuti perencanaan terstruktur dan / atau proses pemantauan. Beberapa proyek akan melalui langkah 2, 3 dan 4 beberapa kali.
Banyak industri menggunakan variasi pada tahap-tahapan proyek ini. Sebagai contoh, ketika bekerja pada sebuah perencanaan desain dan konstruksi, proyek biasanya akan melalui tahapan dengan nama yang berbeda-beda seperti pada tahapan Perencanaan dengan nama: Pra-Perencanaan, Desain Konseptual, Desain Skema, Pengembangan Desain, Gambar Konstruksi (atau Dokumen Kontrak), dan/atau Administrasi Konstruksi.

Secara umum dalam pelaksanaan proyek rekayasa perangkat lunak, komponen biaya dibagi atas dua bagian besar yaitu:

Biaya Personil

Biaya personil adalah komponen-komponen biaya yang dikeluarkan untuk membayar honor dan gaji tim kerja yang bekerja dengan kita. Hitung komponen biaya berdasarkan kesepakatan dengan anggota tim, apakah akan berdasarkan orang-jam/man-hour, orang-hari/man-day atau orang-bulan/man-month. Masukkan seluruh anggota tim kerja dari mulai Manajer Proyek sampai Office-boy yang membantu kelancaran pekerjaan tim. Jangan lupa sepakati mengenai pajak penghasilan dari anggota tim kerja kita. Jika mereka tidak mau dipotong, kita harus memasukkan komponen pajak tersebut dalam RAB.

Biaya Non-personil

Biaya non-personil adalah komponen-komponen biaya yang harus dikeluarkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan proyek. Komponen-komponen biaya tersebut antara lain:

  • Biaya TransportasiHitung kebutuhan transportasi baik untuk di dalam kota maupun luar kota. Untuk transportasi dalam kota dapat menggunakan perhitungan estimasi harga per liter premium untuk per lima kilometer jarak.


  • Biaya Allowance Penugasan Luar KantorPada saat berangkat untuk penugasan luar kota tentunya ada biaya tambahan untuk kita maupun tim kerja yang ditugaskan. Untuk menghitung biaya allowance ini dapat menggunakan contoh sebagai berikut:

    - Uang makan 3 kali sehari Rp 100.000,- (jika penugasan luar kota)
    - Biaya komunikasi sehari Rp 10.000,-

  • Biaya RutinBiaya rutin adalah ongkos-ongkos yang harus dikeluarkan rutin selama kegiatan berlangsung seperti telepon, sambungan internet, korespondensi, listrik, air, gas, keamanan, pemeliharaan, dsb.

  • Biaya Pemanfaatan Peralatan dan SewaBiaya pemanfaatan peralatan/sewa adalah ongkos-ongkos yang harus dikeluarkan seperti sewa ruangan (kerja/produksi, presentasi dan pelatihan), komputer, printer, kendaraan, dsb.

    Masukkan seluruh komponen tersebut sekalipun tidak disampaikan kepada klien karena biasanya mereka menolak untuk membayar beban-beban tersebut. Triknya bisa dengan membebankan nilainya pada komponen biaya nonpersonil lainnya.

  • Biaya Belanja Barang Pakai HabisBiaya belanja barang pakai habis adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli barang-barang seperti kertas, alat tulis kantor, tinta printer, disc CD/DVD, dsb.

  • Biaya Penyusunan LaporanBiaya penyusunan laporan adalah biaya yang harus dikeluarkan dalam penyusunan laporan kegiatan dan modul user manual dari aplikasi perangkat lunak yang kita bangun. Perkirakan berapa biaya yang habis untuk kerja orang yang mengetik dan mengeditnya, pencetakan, pemaketan dan pengirimannya. 

Setelah seluruh komponen tersebut dihitung, waktunya untuk menetapkan batas laba yang harus kita dapatkan. 
Karena itu biaya-biaya tersebut harus kita hitung dan masukkan dalam target batas laba yang harus kita dapatkan. Setelah kita jumlahkan antara nilai biaya operasional dan target batas laba, tambahkan dengan prosentase bunga berjalan dari nilai kapital tersebut.


Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dari berbagai macam segi pandang dalam menjalankan manajemen proyek, antara lain:


Manajemen Proyek Waktu
Adalah proses yang menjelaskan bagaimana untuk memantau dan mengontrol waktu yang dihabiskan dalam sebuah proyek. 
Hal ini menggambarkan langkah-langkah setiap prosedur Manajemen Waktu demi menjelaskan bagaimana menggunakan Timesheet dan manajemen waktu log untuk merekam waktu yang diahbiskan. Dengan menggunakan Proses Waktu, anda dapat mengontrol jumlah waktu yamg dibutuhkan staf untuk membangun deliverable dalam proyek, meningkatkan peluiang anda untuk memberikan “tepat waktu” dari jadwal.


  • Pengertian Manajemen Waktu
    Manajemen proyek waktu adalah semua tentang rekaman waktu yang dihabiskan oleh orang-orang pada sebuah proyek. Untuk merekam waktu yang dihabiskan, tim melaksanakan Proses Manajemen Waktu Proyek. Ini waktu proses perekaman melibatkan waktu yang dihabiskan untuk tugas-tugas, menggunakan Timesheet. Proses waktu membantu manajer mengetahui tugas-tugas teleah bekerja, pada, kapan dan berapa lama.

  • Menggunakan Manajemen Waktu
    Cara terbaik untuk melihat apakah proyek anda berada di trek adalah untuk mencatat waktu benar-benar menghabiskan waktu yang direncankan harus dihabiskan. Proses ini disebut Proyek Manajemen Waktu, dan itu adalah jauh cara yang paling efektif untuk memantau kemajuan proyek. Proses waktu memungkinkan anda untuk melihat untuk setiap tugas, apakah yang telah diselesaikan pada waktu. Proses waktu juga memungkinkan amda untuk mengontrol waktu yang dihabiskan dengan menerapkan proses persetujuan kartu absen.

Proyek waktu proses Manajemen akan membantu anda untuk :
  • Menempatkan proses untuk waktu perekaman dalam proyek
  • Gunakan timesheet untuk memantau waktu yang dihabiskan oleh staf
  • Mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah manajemen waktu
  • Jauhkan Rencana Proyek Anda Up TO Date setiap saat 


Manajemen Anggaran

  • Anggaran Personil
    Dimana dalam hal anggaran personil ini masing-masing personil telah memiliki NPWP.

    Contoh pembuatan anggaran personil:

No
Jabatan
Gaji
1
Risk Management Officer
Rp. 7.000.000,- s.d. Rp 10.000.000,-
2
ODP
Rp. 10.000.000,- s.d. Rp. 13.000.000,-
3
Cleaning Service
Rp. 1.500.000,-

4
Tambahan jam kerja, Anggaran jaminan kesehatan, dsb
Rp. 1.000.000,- s.d. Rp. 15.000.000,-

  • Anggaran Non-Personil






(klik gambar untuk memperbesar)






Jadwal Pelaksanaan




(klik gambar untuk memperbesar)















(klik gambar untuk memperbesar)






SUMBER: 12, 3, 45, 6, 7, 8

Senin, 19 November 2012

Permasalahan pada Bank Syariah


BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan bisnis perbankan syariah masih belum bisa berkembang pesat di Indonesia. Hal itu disebabkan karena masih ada persoalan yang menghambat bisnis perbankan syariah tersebut. Ada tiga masalah terbesar pada perbankan syariah yang akan dijelaskan dibawah ini, yakni:

Pertama, ketersediaan produk dan standarisasi produk perbankan syariah. Hal ini dikarenakan selama ini masih banyak bank syariah yang belum menjalankan bisnisnya sesuai prinsip syariah. Standardisasi ini diperlukan dengan alasan industri perbankan syariah memiliki perbedaan dengan bank konvensional. Apalagi, produk bank syariah tidak hanya diperuntukkan bagi nasabah muslim, melainkan juga nasabah nonmuslim.

Kedua, tingkat pemahaman (awareness) produk bank syariah. Hingga saat ini, sangat sedikit masyarakat yang tahu tentang produk-produk perbankan syariah dan istilah-istilah di perbankan syariah. 
Selain itu, masalah ketiga industri perbankan syariah adalah sumber daya manusia (SDM). Masalah yang terjadi adalah pihak perbankan kesulitan untuk mencari SDM perbankan syariah yang berkompeten dan mumpuni.

Sekadar catatan, Bank Indonesia memproyeksi industri perbankan syariah bisa memiliki pangsa pasar sebesar 15 persen pada 10 tahun mendatang (atau sekitar tahun 2022) apabila bisa mengalami pertumbuhan yang stabil seperti beberapa tahun terakhir.




BAB II

ISI


Beberapa masalah dan problematika yang dihadapi oleh industri perbankan syariah, hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh beberapa bank umum atau konvesional. Bedanya adalah dari penerapan aturan yang ada pada bank itu sendiri, bank syariah memakai aturan kesyariahan yang bersumber pada hukum-hukum islam, sedangkan bank umum atau konvesional menggunakan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh bank sentral.

Bank Islam bekerja dengan aturan yang sangat ketat dan memilih investasi yang halal dan sesuai syariah saja. Implikasinya adalah bank Islam harus melakukan supervisi dan terkadang mengelola secara langsung operasional suatu proyek yang didanainya. Ini dilakukan untuk mereduksi pengeluaran manajerial. 

Akibatnya bank Islam harus memikul biaya tambahan yang tidak pernah terdapat pada pembukuan bank-bank berasas bunga. Bank Islam pun harus mampu meminimalisir potensi kerugian dari investasi mudarabahnya dan mengamankan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bank-bank riba. Hal ini menyebabkan bank Islam terdorong untuk mencari proyek yang segera memberikan keuntungan.

Kemudian bank-bank Islam yang ada saat ini masih kesulitan untuk mengumpulkan dana zakat, infak, maupun shadaqah pada skala yang besar, padahal dana zakat ini merupakan potensi yang sangat luar biasa, dan bisa dijadikan sebagai salah satu sumber pendanaan pinjaman untuk tujuan konsumtif. Masalah yang kelima adalah masih minimnya sumberdaya manusia yang memahami secara komprehensif segala hal yang berkaitan dengan industri perbankan syariah.

Dalam kasus ini industri perbankan syariah pun juga banyak mengalami masalah dalam sistemnya, karena selama ini hanya bank umum atau konvesional saja yang mendapatan sorotan lebih dari para pakar ekonomi tentang masalah dan problematika yang sedang dihadapi.




BAB III

METODOLOGI


Dari beberapa masalah dan fenomena yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya ada beberapa metodologi atau alat analisis yang akan dipaparkan secara rinci untuk problematika diatas, yaitu:

Analisis Aspek Permohonan 
Aspek permohonan menganalisa siapa yang berhak mengajukan pinjaman dari pihak perusahaan selain itu pihak bank juga melihat apakah yang meminjam itu adalah manajer atau komisaris atau hanya karyawan biasa. 

Analisis Aspek Yuridis 
Aspek yuridis mempunyai kedudukan yang strategis dan merupakan aspek yang terpenting diantara yang lainnya, karena walaupun semua aspek yang ada cukup fleksibel, namun jika secara yuridis tidak sah maka ikatan perjanjian dapat gugur. Aspek yuridis dapat menentukan: 
·         - Apakah calon mitra usaha (debitur) mempunyai kecakapan untuk mengadakan perjanjian dengan pihak bank.
·         - Apakah status badan usahanya tersebut sesuai dengan ketentan hukum yang berlaku di wilayah tempat perusahaan itu berdiri. 

Aspek Manajemen
Hampir setiap kegiatan berjalan jika ada pengelola proyek (manajemen) dengan kualitas yang memadai. Kualitas dalam hal ini tidak hanya kemampuan dalam mengelola saja, keahlian maupun pendidikan. Tetapi lebih ditekankan kepada watak (karakter) dari manajer tersebut. 

Analisis Aspek Pemasaran 
Kemampuan untuk memproduksi sesuatu kemungkinan tidak akan berguna jika perusahaan tersebut tidak mempunyai kemampuan dalam memasarkan produk tersebut. Jika produk tersebut tidak dapat dipasarkan, maka dapat dikatakan perusahaan tersebut mengalami kerugian dalam usahanya. 

Analisis Aspek Jaminan 
Digunakan untuk mengantisipasi resiko yang akan ditanggung oleh pihak bank, jika debitur tidak dapat mengembalikan jumlah modal serta bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya. Jaminan tersebut dapat berupa kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yaitu berupa tanah, gedung, atau aktiva tetap lainnya. 



Analisis Aspek Keuangan 
Rasio Keuangan

1.       Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas mempertimbangkan kemampuan usaha untuk memenuhi kewajibannya.

a.       Current Ratio (Ratio Lancar)
Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial/utang jangka pendek dengan aktiva lancar.

Current Ratio = Hutang Lancar / Aktiva Lancar 

b.      Quick Ratio
Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendeknya tanpa memperhitungkan persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang lama untuk direalisir.

Quick Ratio = Aktiva lancar – Persediaan /Hutang Lancar 

2.       Rasio Aktivitas
Bagaimana efisiensi dari manajemen perusahaan dalam mengelola berbagai macam harta operasional perusahaan dapat diukur dengan rasio aktivitas.

a.       Average Collection
Menyajikan jumlah hari rata-rata yang diperlukan perusahaan untuk menagih piutang dagang dari pelanggan. Apabila jumlah masa tagihan melebihi jangka waktu kredit penjualan yang telah ditetapkan perusahaan, ada indikasi bahwa manajemen perusahaan kurang mahir dalam mengelola dana moda kerja perusahaan, termasuk mendapatkan pelanggan yang lebih dapat diandalkan ketepatan waktu pembayarannya.

ACP = Jumlah Saldo Piutang /Hasil Penjualan Bersih x 360 hari 

b.      Inventory turn over
Menggambarkan kemahiran manajemen perusahaan dalam mengawasi persediaan bahan, bahan setengah jadi dan barang jadi yang diperlukan untuk kelancaran usaha. Bila inventory turn over bahan baku melebihi jangka waktu yang dibutuhkan untuk memesan bahan tersebut sampai tiba di gudang.

ITO = Saldo Persediaan Rata-rata /Harga Pokok Penjualan = x 360 hari




3.      Rasio Profitabilitas
Rasio ini digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam suatu periode tertentu. Analisis Rasio Profitabilitas memiliki beberapa metode yaitu:

a.       Profit Margin Sales
Menunjukkan hubungan antara laba bersih dan penjualan bersih, dengan rumus:

Profit Margin = EAT /Penjualan Bersih

b.      Return on Equity Capital
Adalah perbandingan antara pendapatan bersih dengan modal saham, rasio ini mempunyai arti yang sangat penting untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang tersedia untuk mendapatkan laba bersih.

ROE = Laba Bersih /Modal Ekuitas 

c.       Return on Investment
Adalah kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva dan digunakan untuk operasi perusahaan dan menghasilkan keuntungan.

ROI = EAT /Total Aktiva 

d.      Rentabilitas Ekonomi
Adalah tingkat keuntungan dari investasi total modal dalam menghasilkan laba besih.

Rentabilitas Ekonomi = EAT /Total Modal



Alat analisa: Analisa kurensi pada perbankan syariah





KESIMPULAN


Bank berprinsip syariah di Indonesia masih memiliki beberapa masalah yang menghambat perbankan syariah berkembang. Karenanya, dibutuhkan identifikasi dan pembagian masalah secara bertahap. Sebaiknya pihak bank memperbaiki sistem syariah yang biasanya menimbulkan masalah. Kemudian pada masalah edukasi mengenai syariah, masyarakat juga harus tahu betul apa itu yang dimaksud dengan prinsip syariah, cara kerjanya, dan sistemasinya. Masyarakat yang sebagai calon ataupun pengguna jasa asuransi ini dituntut betul untuk kritis dalam menanggapi permasalahan seperti ini. Agar kelak, masayarakat dapat menentukan pilihan yang terbaik dalam menggunakan jasa bank syariah.

Alat Analisis Kurensi pada Bank Syariah

  • Analisis Aspek Permohonan 
    Aspek permohonan menganalisa siapa yang berhak mengajukan pinjaman dari pihak perusahaan selain itu pihak bank juga melihat apakah yang meminjam itu adalah manajer atau komisaris atau hanya karyawan biasa. 

  • Analisis Aspek Yuridis 
    Aspek yuridis mempunyai kedudukan yang strategis dan merupakan aspek yang terpenting diantara yang lainnya, karena walaupun semua aspek yang ada cukup fleksibel, namun jika secara yuridis tidak sah maka ikatan perjanjian dapat gugur. Aspek yuridis dapat menentukan: 
  1. Apakah calon mitra usaha (debitur) mempunyai kecakapan untuk mengadakan perjanjian dengan pihak bank.
  2. Apakah status badan usahanya tersebut sesuai dengan ketentan hukum yang berlaku di wilayah tempat perusahaan itu berdiri. 

  • Aspek Manajemen
    Hampir setiap kegiatan berjalan jika ada pengelola proyek (manajemen) dengan kualitas yang memadai. Kualitas dalam hal ini tidak hanya kemampuan dalam mengelola saja, keahlian maupun pendidikan. Tetapi lebih ditekankan kepada watak (karakter) dari manajer tersebut. 

  • Analisis Aspek Pemasaran 
    Kemampuan untuk memproduksi sesuatu kemungkinan tidak akan berguna jika perusahaan tersebut tidak mempunyai kemampuan dalam memasarkan produk tersebut. Jika produk tersebut tidak dapat dipasarkan, maka dapat dikatakan perusahaan tersebut mengalami kerugian dalam usahanya. 

  • Analisis Aspek Jaminan 
    Digunakan untuk mengantisipasi resiko yang akan ditanggung oleh pihak bank, jika debitur tidak dapat mengembalikan jumlah modal serta bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya. Jaminan tersebut dapat berupa kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yaitu berupa tanah, gedung, atau aktiva tetap lainnya. 

  • Analisis Aspek Keuangan 
    Rasio Keuangan

    1. Rasio likuiditas

    Rasio Likuiditas mempertimbangkan kemampuan usaha untuk memenuhi kewajibannya.

    a. Current Ratio (Ratio Lancar)

    Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial/utang jangka pendek dengan aktiva lancar.

    Current Ratio = Hutang Lancar / Aktiva Lancar 
    b. Quick Ratio

    Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendeknya tanpa memperhitungkan persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang lama untuk direalisir.

    Quick Ratio = Aktiva lancar – Persediaan /Hutang Lancar 
    2. Rasio Aktivitas

    Bagaimana efisiensi dari manajemen perusahaan dalam mengelola berbagai macam harta operasional perusahaan dapat diukur dengan rasio aktivitas.

    a. Average Collection

    Menyajikan jumlah hari rata-rata yang diperlukan perusahaan untuk menagih piutang dagang dari pelanggan. Apabila jumlah masa tagihan melebihi jangka waktu kredit penjualan yang telah ditetapkan perusahaan, ada indikasi bahwa manajemen perusahaan kurang mahir dalam mengelola dana moda kerja perusahaan, termasuk mendapatkan pelanggan yang lebih dapat diandalkan ketepatan waktu pembayarannya.

    ACP = Jumlah Saldo Piutang /Hasil Penjualan Bersih x 360 hari 
    b. Inventory turn over

    Menggambarkan kemahiran manajemen perusahaan dalam mengawasi persediaan bahan, bahan setengah jadi dan barang jadi yang diperlukan untuk kelancaran usaha. Bila inventory turn over bahan baku melebihi jangka waktu yang dibutuhkan untuk memesan bahan tersebut sampai tiba di gudang.

    ITO = Saldo Persediaan Rata-rata /Harga Pokok Penjualan = x 360 hari 
    3. Rasio Profitabilitas

    Rasio ini digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam suatu periode tertentu. Analisis Rasio Profitabilitas memiliki beberapa metode yaitu:

    a. Profit Margin Sales

    Menunjukkan hubungan antara laba bersih dan penjualan bersih, dengan rumus:

    Profit Margin = EAT /Penjualan Bersih

    b. Return on Equity Capital

    Adalah perbandingan antara pendapatan bersih dengan modal saham, rasio ini mempunyai arti yang sangat penting untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang tersedia untuk mendapatkan laba bersih.

    ROE = Laba Bersih /Modal Ekuitas 
    c. Return on Investment

    Adalah kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva dan digunakan untuk operasi perusahaan dan menghasilkan keuntungan.

    ROI = EAT /Total Aktiva 
    d. Rentabilitas Ekkonomi

    Adalah tingkat keuntungan dari investasi total modal dalam menghasilkan laba besih.

    Rentabilitas Ekonomi = EAT /Total Modal


Teori Penjelasan Permasalahaan pada Bank Syariah



Beberapa masalah dan problematika yang dihadapi oleh industri perbankan syariah, hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh beberapa bank umum atau konvesional. Bedanya adalah dari penerapan aturan yang ada pada bank itu sendiri, bank syariah memakai aturan kesyariahan yang bersumber pada hukum-hukum islam, sedangkan bank umum atau konvesional menggunakan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh bank sentral.

Adapun beberapa problematika yang muncul seiring dengan berkembangnya industri perbankan syariah dapat kita kategorikan pada beberapa masalah yang diantaranya adalah :
Pertama, adalah kurangnya deposito. Perbankan yang beroperasi secara syariah tidak dapat menerima simpanan dari orang-orang yang ingin mendapat keuntungannya tanpa menanggung resiko apapun. Karena sesuai syariah, berbagi keuntungan tidak dibenarkan tanpa berbagi resiko. Jenis deposan seperti ini pada umumnya lebih cenderung untuk mendepositokan uangnya pada bank-bank yang beroperasi dengan system bunga / riba atau pada pasar modal (stock market).

Yang kedua, masalah yang dihadapi oleh perbankan syariah adalah likuiditas berlebihan (excessive liquidity). Tentu saja bank Islam akan lebih cenderung mempertahankan rasio yang tinggi antara uang tunai dengan simpanannya bila dibandingkan dengan perbankan konvensional. Ini dilakukan untuk mengantisipasi penarikan rekening tabungan yang dilakukan nasabah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kemudian tidak semua nasabah bank Islam yang potensial menyetujui meminjamkan uangnya berdasarkan prinsip musyarakah atau kemitraan.

Pada umumnya nasabah lebih senang meminjam dana atas dasar mudarabah, atau bahkan meminjam dari bank konvensional dengan system bunga. Sebaliknya bank Islam akan lebih senang –dengan alasan resiko– berinvestasi atas dasar musyarakah ketimbang mudarabah, karena dalam mudarabah, jika suatu usaha mengalami kerugian maka bank akan menanggung beban kerugian yang lebih besar ketimbang partnernya. Sikap konservatif investor dan bank tersebut akan menimbulkan likuiditas berlebihan. Bank Islam pun cenderung menahan lebih banyak cadangannya (baik pada kasnya sendiri maupun bank sentral) sebagai perlindungan atas kerugian dan menjaga kepuasan para nasabah potensialnya. Masalah yang ketiga, adalah problematika biaya dan profitabilitas.

Bank Islam bekerja dengan aturan yang sangat ketat dan memilih investasi yang halal dan sesuai syariah saja. Implikasinya adalah bank Islam harus melakukan supervisi dan terkadang mengelola secara langsung operasional suatu proyek yang didanainya. Ini dilakukan untuk mereduksi pengeluaran manajerial. Akibatnya bank Islam harus memikul biaya tambahan yang tidak pernah terdapat pada pembukuan bank-bank berasas bunga. Bank Islam pun harus mampu meminimalisir potensi kerugian dari investasi mudarabahnya dan mengamankan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bank-bank riba. Hal ini menyebabkan bank Islam terdorong untuk mencari proyek yang segera memberikan keuntungan.

Long gestation project (proyek dengan masa menunggu yang lama) dan proyek infrastruktur adalah proyek-proyek yang kurang menarik minat perbankan Islam, dimana bank Islam harus membayar keuntungan yang besar setiap tahun terhadap simpanan. Masalah keempat yang dihadapi selanjutnya adalah masalah pendanaan pinjaman untuk konsumsi. Bank Islam terkadang kesulitan untuk memberi pinjaman yang bertujuan konsumtif. Hal ini disebabkan oleh masih terbatasnya dana yang dapat dipinjamkan tanpa memperoleh keuntungan.

Kemudian bank-bank Islam yang ada saat ini masih kesulitan untuk mengumpulkan dana zakat, infak, maupun shadaqah pada skala yang besar, padahal dana zakat ini merupakan potensi yang sangat luar biasa, dan bisa dijadikan sebagai salah satu sumber pendanaan pinjaman untuk tujuan konsumtif. Masalah yang kelima adalah masih minimnya sumberdaya manusia yang memahami secara komprehensif segala hal yang berkaitan dengan industri perbankan syariah.

Dalam kasus ini industri perbankan syariah pun juga banyak mengalami masalah dalam sistemnya, karena selama ini hanya bank umum atau konvesional saja yang mendapatan sorotan lebih dari para pakar ekonomi tentang masalah dan problematika yang sedang dihadapi.


SUMBER

Masalah pada Bank Syariah

JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan bisnis perbankan syariah masih belum bisa berkembang pesat di Indonesia. Hal itu disebabkan karena masih ada persoalan yang menghambat bisnis perbankan syariah tersebut.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank-bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Achmad K Permana menjelaskan hingga saat ini aset industri perbankan syariah masih memiliki pangsa pasar di bawah 4 persen dibandingkan dengan keseluruhan perbankan nasional. "Sebenarnya ada tiga masalah besar di perbankan syariah. Ini yang menghambat perkembangan bisnis syariah sampai saat ini," kata Achmad saat diskusi "Menguak Krisis Sumber Daya Insani di Perbankan Syariah" di D Consulate Resto Jakarta, Senin (13/8/2012).

Pertama, ketersediaan produk dan standarisasi produk perbankan syariah. Hal ini dikarenakan selama ini masih banyak bank syariah yang belum menjalankan bisnisnya sesuai prinsip syariah. Standardisasi ini diperlukan dengan alasan industri perbankan syariah memiliki perbedaan dengan bank konvensional. Apalagi, produk bank syariah tidak hanya diperuntukkan bagi nasabah muslim, melainkan juga nasabah nonmuslim.

Kedua, tingkat pemahaman (awareness) produk bank syariah. Hingga saat ini, sangat sedikit masyarakat yang tahu tentang produk-produk perbankan syariah dan istilah-istilah di perbankan syariah. "Hanya sekitar 30 persen dari sumber daya yang direkrut mengetahui istilah perbankan syariah serta tingkat awareness-nya," tambahnya.

Selain itu, masalah ketiga industri perbankan syariah adalah sumber daya manusia (SDM). Masalah yang terjadi adalah pihak perbankan kesulitan untuk mencari SDM perbankan syariah yang berkompeten dan mumpuni. "Kami justru banyak mengambil SDM untuk perbankan syariah dari perbankan konvensional dan SDM-SDM yang potensial. Sangat sedikit SDM yang diambil atau lulusan perguruan tinggi syariah," katanya.

Menurut Achmad kecenderungan mengambil SDM dari luar perguruan tinggi syariah karena SDM di perbankan syariah biasanya justru mudah diberikan pengetahuan tentang perbankan syariah.

Dari sisi karir, Achmad juga mengiming-imingi kemudahan untuk bersaing dibandingkan dengan karir di perbankan konvensional. "Rata-rata motivasi mereka bekerja adalah mencari karir dan pendapatan. Secara karir, SDM perbankan syariah tidak kalah dengan perbankan syariah, karena orangnya minim sehingga mudah untuk naik jenjang karir. Beda dengan perbankan konvensional yang sudah jenuh," jelasnya.

Sekadar catatan, Bank Indonesia memproyeksi industri perbankan syariah bisa memiliki pangsa pasar sebesar 15 persen pada 10 tahun mendatang (atau sekitar tahun 2022) apabila bisa mengalami pertumbuhan yang stabil seperti beberapa tahun terakhir.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah yang saat ini menjadi anggota Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan industri perbankan syariah mengalami pertumbuhan dengan rerata 40,5 persen per tahun, dalam setengah dasawarsa terakhir. Pertumbuhan tersebut dua kali lebih cepat dibandingkan dengan perbankan konvensional sehingga pangsa pasarnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun saat ini pangsa pasarnya (berdasarkan aset) masih sekitar 4 persen.

SUMBER

Sabtu, 10 November 2012

Algoritma & Pemrograman 3 - Method : Public, Protected, Private pada Java



Access Modifier pada Java


Access modifier merupakan keyword yang digunakan untuk menentukan spesifikasi tingkat akses suatu vaiable atau method (anggota kelas). Peng-aksesan yang dimaksud bisa berupa pengaksesan dalam kelas yang sama, turunan maupun dari luar kelas di mana variable dan method dideklarasikan. Dalam Java, access modifier teridiri dari:


  • Default

    Access Modifier ini hanya menspesifikasikan kelas-kelas (classes) di paket yang sama yang bisa mengakses variable dan method suatu kelas. Anggota kelas dengan default access bisa melihat kelas lain dipaket yang sama. Tidak ada keyword khusus untuk mendeklarasikan modifier default access. Sehingga apabila tidak ada access modifier pada pendeklarasian tersebut, berarti yang dimaksud adalah default access.

    contoh:

    class Mahasiswa {
      String nama;
    
      String kata() {
        return “Algoritma & Pemograman 3 JAVA”;
      }
    }

  • Public

    Suatu anggota kelas (class member) dideklarasikan sebagai public, maka anggota tersebut akan bisa digunakan oleh siapa saja, yaitu baik oleh kelas yang sama, kelas lain maupun lingkungan luar kelas. Sehingga anggota kelas (class member) yang dideklarasikan sebagai public akan bisa diakses oleh sembarang object lain.

    contoh:

    class Mahasiswa {
      public String nama;
    
      public String kata() {
        return “Algoritma & Pemograman 3 JAVA”;
      }
    }

  • Protected

    Access modifier protected menspesifikasikan atau menentukan anggota kelas (class member) yang hanya bisa diakses oleh method-methodyang ada di dalam kelas yang sama dan juga dapat diakses oleh subclass (kelas turunan) dari kelas tersebut.

    contoh:

    class Mahasiswa {
      protected String nama;
    
      protected String kata() {
        return “Algoritma & Pemograman 3 JAVA”;
      }
    }


  • Private

    Access modifier private merupakan tingkatan akses yang sangat terbatas. Kemudian seperti modifier-modifier lain, modifier private menspesifikasikan anggota kelas (class member) yang hanya bisa diakses oleh kelas dimana anggota-anggota kelas tersebut dideklarasikan. Keadaan ini mengakibatkan bahwa tidak ada kelas lain yang bisa mengakses anggota kelas private, sekaligus termasuk subkelas-subkelas (subclassess)-nya. Access modifier private adalah yang paling terbatas, menspesifikasikan anggota kelas(variable dan method) hanya dapat diakses oleh kelas dimana anggota itu didefinisikan.

    contoh:

    class Mahasiswa {
      private String nama;
    
      private String kata() {
        return “Algoritma & Pemograman 3 JAVA”;
      }
    }



Modifier akses: modifier yang mempengaruhi tentang pengaksesan (pembacaan dan penulisan)


[ SUMBER , SUMBER , SUMBER ]

  • Contoh penggunaan modifier akses 
class Mahasiswa {  
  private String admin;
  private int NIM;
  private String nama;

  public void setAdmin(String admin) {
    this.admin = admin;
  }
  public void setNIM(int NIM) {
    this.NIM = NIM;
  }
  public void setNama(String nama){
    this.nama = nama;
  }
  public void pesan() {
    System.out.println("Nama admin: "+admin);
  }
  public int getNIM() {
    return NIM;
  }
  public String getNama() {
    return nama;
  }
}

public class MainMahasiswa {
  public static void main(String args[]) {
    Mahasiswa m = new Mahasiswa();
    m.setAdmin("Dimitri");
    m.setNIM(1234567);
    m.setNama("Grigory Ekholayev");
    m.pesan();
    System.out.println(“NIM ” + m.getNIM() + “ bernama ” + m.getNama());
  }
}


Outputnya:

Nama admin: Dimitri
NIM 23090999 bernama Grigory Ekholayev


  • Contoh penggunaan modifier akses 


public class manusia {
public static void main(String[] args) {

public class Manusia{
private String nama; 
private String jenkel;

public void setNama(String nama){
this.nama=nama;
}
public void setJenkel(String jenkel){
this.jenkel=jenkel;
}


public void cetak(){ 

System.out.println("Nama : "+nama);
System.out.println("Jenis Kelamin : "+jenkel);

}
}

public class DemoManusia{

public void main(String args[]){
Manusia m = new Manusia();
m.setNama("Sammy-Jan");
m.setJenkel("Laki-laki");
m.cetak();
}

}


Outputnya:

Nama : Sammy-Jan
Jenis Kelamin : Laki-laki




Sabtu, 03 November 2012

Permasalahan Pada Asuransi dan Penyelesaiannya

CONTOH KASUS ASURANSI DAN CARA PENYELESAIANNYA

  • Asuransi Syariah



Asuransi berprinsip syariah di Indonesia masih memiliki beberapa masalah yang menghambat asuransi syariah berkembang. Karenanya, dibutuhkan identifikasi dan pembagian masalah secara bertahap. --Angga Bratadharma--
Bogor, Industri asuransi berprinsip syariah di Indonesia masih memiliki beberapa masalah yang menghambat asuransi syariah berkembang. Karenanya, dibutuhkan identifikasi dan pembagian masalah secara bertahap agar bisa diciptakan penyelesaian masalah yang tepat dan sesuai.


Demikian dikatakan Kepala Bagian Perasuransian Syariah Bapepam-LK Yatty Nurhayati, kepada wartawan, saat ditemui dalam Rapat Kerja Pengurus dan Media Gathering 2012, yang diadakan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) di Bogor, Jawa Barat, Jumat, 27 April 2012.
“Masih ada beberapa masalah yang menghambat asuransi syariah. Itu datangnya dari para pelaku. Kami harap ini bisa diprebaiki”, tambanhnya.
Ia menerangkan, perrmasalahan yang ada itu, yaitu masih adanya penempatan dana jaminan usaha syariah yang belum dipisahkan, dan produk-produk investasi yang penempatan investasinya melampaui ketentuan pembatasan.
Selain itu, lanjutnya, mengenai produk yang dipasarkan, masih ada produk-produk asuransi yang telah dipasarkan, namun belum dilaporkan, lalu ada produk-produk asuransi yang telah dilaporkan, tapi belum disesuaikan dengan ketentuan PMK No. 18/PMK.010/2010.

“Kekhususan produk asuransi syariah belum disampaikan secara jelas pada saat dipasarkan”, tegas Yatty.
Selanjutnya, mengenai peran DPS dalam melakukan pengawasan, maka DPS dianggap Yatty belum berperan aktif dalam melakukan pengawasan penerapan prinsip syariah, dan juga belum menunjukkan keseriusan dalam penyususnan Laporan Hasil Pengawasan.
“Terahkir, masalah edukasi masyarakat tentang Asuransi Syariah masih minim keterlibatan para pelaku auransi berprinsip syariah dalam sosialisasi dan edukasi assuransi syariah. Karenanya perlu ditingkatkan”, tutupnya.

Studi kasus:
"Sebaiknya pihak asuransi memperbaiki sistem syariah yang biasanya menimbulkan masalah, seperti penempatan dana jaminan usaha syariah. Yang seharusnya pada penempatan dana jaminan itu dipisah agar jelas dan lebih efisien dan kemungkinan resiko yang akan muncul hanyalah sedikit. Kemudian pada masalah edukasi mengenai syariah, kita juga harus tahu betul apa itu yang dimaksud dengan syariah, cara kerjanya, dan sistemasinya. Kita sebagai calon ataupun pengguna jasa asuransi ini dituntut betul untuk kritis dalam menanggapi permasalahan seperti ini."



  • Penyelesaian Klaim Asuransi Contractora All Risk

STUDI KASUS PADA PT.ASURANSI WAHANA TATA TERHADAP PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN KEBON AGUNG SLEMAN YOGYAKARTA

Setahun yang lalu pernah terjadi sebuah kasus dalam penyelesaian klaim asuransi oleh perusahaan konstruksi atas proyek pembangunan jembatan Kebon Agung yang menghubungkan wilayah Kabupaten Sleman dengan wilayah Kabupaten Kulon Progo di Yogyakarta. Klaim tersebut didasari beberapa kali peristiwa yang tidak terduga yang terjadi dalam pengerjaan proyek tersebut. 
Pertama, peristiwa terjadi pada bulan November 2007, pada saat melaksanakan gelagar bentangan, setelah pemasangan, selang waktu kurang lebih 17 jam, satu buah bentangan jatuh, dan satu buah girder yang telah terpasang jatuh dan menyebabkan pecah sehingga timbul kerugian material. 

Pada kasus pertama ini pelaksana konstruksi PT Hutama Karya terlambat membayar premi, seharusnya klaim yang diajukan ditolak oleh PT. Asuransi Wahana Tata. Namun, dengan pertimbangan adanya hubungan baik antara pihak pelaksana konstruksi dengan pihak PT.Asuransi Wahana Tata, maka klaim tetap dapat diajukan dan memperoleh ganti rugi meskipun dalam jumlah yang tidak semestinya. Hubungan baik ini dalam istilah asuransi dinamakan Ex Gratia. 

Hal ini dilakukan atas dasar kesepakatan oleh kedua belah pihak. Kedua, tidak lama berselang peristiwa berikutnya terjadi pada bulan Desember 2007, ketika itu sedang musim hujan sehingga menyebabkan Kali Progo tempat proyek tersebut banjir dan meluap hingga‚ ±3 meter. Kondisi ini, menyebabkan pasangan batu dan beton bertulang runtuh dan lima buah girder retak. 

Klaim dapat dilaksanakan secara normal (sesuai pertanggungan), karena semua prosedur telah dipenuhi sesuai persyaratan. Sehingga, pelaksana konstruksi mendapatkan ganti rugi sesuai dengan jumlah yang tercantum di dalam polis.


  • Penyelesaian Sengketa Asuransi pada Polis Asuransi yang Mencantumkan Klausula Arbitrase


STUDI KASUS PADA POLIS PT ASURANSI HANJIN KORINDO DAN POLIS PT ASURANSI JAYA PROTRKSI

Secara garis besar substansi dari polis asuransi terdiri dari uraian mengenai obyek yang dijamin, nama dan alamat penanggung dan tertanggung, jangka waktu berlakunya polis, risiko atau bahaya yang dijamin dan dikecualikan, syarat-syarat atau ketentuan umum dan yang terakhir adalah cara penyelesaian sengketa atau perselisihan apabila terjadi klaim yang biasanya disebut klausula arbitrase atau penyelesaian sengketa. 


Klausula arbitrase dalam polis asuransi memuat ketentuan apabila terjadi sengketa antara penanggung dan tertanggung maka para pihak sepakat untuk mengupayakan penyelesaian secara musyawarah (amicable setllement), namun apabila penyelesaian secara musyawarah tidak tercapai maka para pihak sepakat untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase. Semua polis asuransi yang dikeluarkan oleh AAUI memuat klausula penyelesaian sengketa melalui arbitrase, karena itu dalam penulisan ini akan dikaji lebih lanjut perihal pencantuman klausula arbitrase dalam polis asuransi dan kaitannya dengan proses penyelesaian sengketa asuransi yang ditempuh oleh para pihak. 

Penulisan ini akan membahas dua polis asuransi yang sama-sama mencantumkan klausula arbitrase dan proses penyelesaian sengketa yang ditempuh oleh penanggung dan tertanggung. Kedua polis yang dibahas yakni polis PT Asuransi Hanjin Korindo dan PT Asuransi Jaya Proteksi memiliki klausula arbitrase yang sama dan juga sengketa yang sama yakni masalah liability akan tetapi terdapat inkonsistensi dalam pemberian putusan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Negeri Jakarta Utara terkait kedua perkara tersebut. 

Inkonsitensi yang terdapat dalam kedua putusan tersebut dapat terjadi karena substansi klausula arbitrase dalam polis yang kurang jelas dan menyebabkan multi penafsiran, dimana pilihan penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase ditetapkan apabila terjadi sengketa terkait perbedaan jumlah yang harus dibayarkan berdasarkan polis, sedangkan tidak ada ketentuan lain yang mengatur mengenai penyelesaian sengketa terkait polis apabila menyangkut liability.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More