IDN-AUS Latihan Bersama Pesawat Tempur

TNI AU menerbangkan enam pesawat tempur F-16. Sementara RAAF (Royal Australian Air Force) menurunkan delapan pesawat tempur jenis F-18 Hornet.

Rugby Masuk Sekolah

Awalnya hanya sebuah kebiasaan yang dibawa oleh mahasiswa Indonesia yang baru lulus kuliah di Australia. Mereka berpikir, rasanya seru dan nggak masalah juga kalo rugby ini dimainkan oleh negeri sendiri.

Kejuaraan Pacuan Kuda KAPOLRI CUP 2011

Sutan Agogo menang tipis atas Blezing BMW pada Kelas Derby Piala Champion Serie 2. Hal ini membuat pacuan kuda Indonesian Derby 2011 akan berlangsung seru karena hampir semua kuda memiliki kesempatan yang hampir merata.

Klasemen Major League Baseball

Sabtu, 8 Oktober 2011. Detroit @ Texas | TBD | FOX | StubHub | Verlander vs Wilson

Membaca Adalah Jendela Dunia

Dengan membaca, wawasan kita akan semakin bertambah. Dengan wawasan kita yang semakin bertambah, maka derajat sosial kita akan meningkat. Sehingga kita akan lebih disegani oleh masyarakat. Dan jangan lupa berbagi ilmu yang kita dapat.

Sabtu, 05 Mei 2012

Manusia dan Pandangan Hidup

[Sang Pemimpi]


2009
Karya: Andrea Hirata


Sang Pemimpi adalah sebuah film Indonesia tahun 2009 yang diadaptasi dari tetralogi novel Laskar Pelangi kedua, Sang Pemimpi, karya Andrea Hirata. Film ini disutradarai oleh Riri Riza dengan produser Mira Lesmana. Pengambilan gambar rencananya dimulai di Belitung (Belitong, dalam bahasa setempat) pada 1 Juli 2009 dan dijadwalkan selesai pada 21 Agustus 2009, dan akan dilakukan di beberapa lokasi di Manggar, Tanjung Pandan, Jakarta, dan Bogor. 

Film ini rencananya akan tayang di bioskop di Indonesia mulai 17 Desember 2009.
Sang Pemimpi akan menjadi film pembuka dalam Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2009 pada 4 Desember 2009, dan menjadi film Indonesia pertama yang menjadi pembuka sejak JiFFest pertama pada tahun 1999. Sang Pemimpi adalah film Indonesia terlaris kedua pada tahun 2009 dengan jumlah penonton 1,9 Juta orang.

Sang Pemimpi merupakan kelanjutan dari Laskar Pelangi. Film ini menceritakan mengenai Ikal dan saudara sepupunya, Arai, serta sahabatnya, Jimbron, pada usia remaja, dan mengisahkan mengenai anak remaja yang mencari identitas diri dan seksualitas pada usia 17 tahun.

Ikal masih merindukan cinta pertamanya yang telah pergi dari Belitung, menyisakan hanya kenangan dan sebuah kotak kaleng yang bergambarkan menara Eiffel. Arai, seorang playboy bergaya Melayu, jatuh cinta kepada teman sekelasnya Zakiah Nurmala yang tampaknya bertepuk sebelah tangan. Sementar itu, Jimbron berangan-angan untuk menyelamatkan Laksmi, seorang gadis muda yang bekerja di sebuah pabrik cincau. Bersama-sama, ketiganya berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi.



"Ikal dan Arai memiliki cita-cita utuk bersekolah diluar negeri yaitu di Paris, Prancis. Meski mereka hanya dari keluarga yang tak mampu, namun usaha mereka dalam menjalani hidup terutama dalam bidang pendidikan tidaklah menyurutkan tekad yang sudah bulat tersebut. Karena bercita-cita sekolah di Paris merupakan suatu pandangan hidup yang mereka yakini.

Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Hal itu menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pedoman atau petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. 

Seperti yang digambarkan pada akhir film ini, dimana Ikal dan Arai yang telah dewasa berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Paris. Mereka mendapatkan beasiswa setelah menyelesaikan penididikan di suatu universitas besar di Indonesia. Tentu ini membuat orang tua mereka bangga meski hanya menerima surat yang mereka kirimkan lewat pos.

Suatu kebahagiaan tiada tara jikalau manusia mendapatkan apa yang dicita-citakan. Dimana pandangan hidup yang mereka yakini menghantarkan kesuksesan bilamana dilaksanakan dengan sungguh-sungguh".

Jumat, 04 Mei 2012

Manusia dan Kegelisahan

[Butiran Kegelisahan]


(gambar ilustrasi)



Tak bisa kupungkiri memang, beberapa hari ini aku terus mencoba menentramkan jiwa, menyelimuti kalbu yang mulai tertoreh. Menutupi kegelisahan yang aku sendiri tak memahaminya. Aku melangkah setapak, namun kalut itu masih ada. Kembali ku gelengkan kepala, berharap bayangan yang tak berwujud itu segera hilang meninggalkan diriku. Aku menjerit pelan " Pergilah, aku mohon" . Terasa ruang ini begitu sempit. Padahal sebelumnya aku sangat mencintai ruang ini, disinilah tempatku menghilangkan jenuh hari-hariku, melepaskan gerutuan yang kudapat dijalanan. Kini, ia tak berarti apa-apa. Seolah ada tempat lain yang lebih nyaman bagiku, dan aku bisa tenang disana. Yup, jelas tempat itu memang ada, Firdaus Nya. Lantas, apa saat ini detik penantian itu sudah dekat? Rabb, hatiku memang gelisah, tapi aku tidak ingin mengahdapMu dalam kondisi seperti ini. 


Jiwaku benar-benar carut marut. Aku duduk diatas kursi kesayanganku. Dimana aku melayang kedunia maya, disana aku terbang kemanapun yang aku inginkan, dan disana pula tempatku menoreh banyak cerita, menyampaikan pesan hati lewat tulisan untuk orang banyak. Kugoyangkan penaku perlahan. Tercoret tanpa arah. Tanpa makna. Namun, bagiku coretan itu begitu menyimpan makna. Sebegitukah keadaan hatiku saat ini? Fuih,,,aku tak menemukan ide untuk berpesta pora dengan kata-kata indah yang biasa ku tulis. Kemudian aku bangkit, berjalan kesana kemari. Seandainya sahabatku Rahmi ada disini seperti biasa menemani hari-hariku, pasti ia bingung dan linglung melihatku seperti ini. Tapi keberadaannya pasti bisa sedikit membantuku mengemban kegelisahan ini. Hari ini ia tiada, ia sedang birrul walidain mengunjungi orang tua tercinta di kampung halaman, dan aku tidak berhak melarangnya. 


Kuhentikan langkah. Kumelihat kesekeliling. Ah, kenapa aku tidak mengaji saja. Akhirnya aku tersenyum indah, aku tahu apa yang akan aku lakukan saat ini. Segera aku beranjak ke kamar mandi ingin berwudhu, berusaha menentramkan kegalauan hati. Rabb, kesejukan ini sungguh bermakna. Pujian ku hantur syahdu untuk Nya. Kuraih Mushaf Merah marunku, yang selalu bisa membuat bibirku basah indah dengan menghayati tiap katanya. Kumulai dengan kalimat ta'awudz dan basmalah untuk memasuki dunia kalam Nya. Tetesan embun memenuhi ruang jiwaku, menyejukkan jiwaku yang sedang meronta galau. Terasa begitu indah. Air mataku mulai jatuh, bening itu jatuh begitu saja, tanpa paksaan, tanpa rekayasa. Semakin ku memperpanjang bacaan, semakin deras ia bercucuran, menandakan sebegitu beratnya beban hatiku saat ini. Allah aku begitu merindukanMu. Sungguh!


Bingung. Lagi-lagi aku seperti ini. Aku merasa dunia saat ini sungguh tidak bersahabat. Bagiku dunia tidak lagi ramah. Walaupun aku tak tahu kapan ia pernah ramah. Aku bosan, bosan melihat prioritas manusia yang selalu hanya memikirkan dunia. Walau aku tidak mungkin juga lari dari dunia. Walau aku masih saja larut dalam aktifitas manusiawi yang tak bermakna. Itulah sebabnya aku merasa bosan. Dunia. Wajah aneh penuh rasa. Ada kebahagiaan, kekejaman, kesadisan dan banyak lainnya yang tak bisa kusebutkan, lebih tepatnya tak ingin kusebutkan. Dunia. Ladang fatamorgana yang manusia tak bisa lari darinya. Memang, tak mungkin terhindar darinya. Sebab kasat mata yang terlihat hanya dunia saja. Ladang akhirat akan hadir setelah adanya perenungan. 


Aku sepi. Aku tak mengerti apa aku benar-benar lelah menghadapi dunia ini. Aku kembali merenungi niat yang aku miliki. Apa ia begitu suci? Apa ia sudah lurus? Apa ia sudah layak untuk memperoleh janji FirdausNya? Atau apa ia hanya nafsu dunia saja? Hanya tuntutan yang belum mengenal arah. Entahlah.


" Dunia memang indah, lebih indah dari hayalan seorang putri raja dikala menanti sang pangeran. Ia kebahagiaan dan kesenangan. Sahabatku Rini, dunia itu hanya tipuan, keindahannya hanya sementara, ia tak menjanjikan apapun, walau kita sudah memperoleh kebahagiaan dari padanya, namun belum pasti bisa kita bawa hingga ke akhirat. Rin, sungguh aku begitu mencintai mu karena Allah, aku tahu kau seperti ini bukan karena ketidakpercayaanmu pada janji Allah, bahkan kau lebih tau tentang itu dari pada aku, kau sahabat yang luar biasa Rin, jangan kau biarkan dirimu kalut dalam kegalauan seperti ini. Jika memang kau lelah, berbuatlah satu hal yang bagimu itu lebih baik kau kerjakan saat ini sebab kau takut akan meninggalkan semuanya. 

Sahabatku, aku tahu siapa dirimu, ambillah ia, dan kerjakanlah ia, jika itu adalah ahsanul amal bagimu. Jangan pedulikan bisikan-bisikan itu, itu hanya akan membuatmu ragu untuk melangkah. Sobat, aku percaya kau tidak akan salah pilih. Karena aku tahu berapa besarnya rasa cinta dalam hatimu untuk Sang Rabb. Rin, aku akan kembali dalam minggu ini, aku harap kau sabar menunggunya. Aku rindu mendengar celotehanmu, suara tawamu, dan pujianmu itu. Ahibbak fillah.


Aku menangis tersedu. Allah, terima kasih Kau telah memberiku seorang sahabat yang begitu mengerti aku. Aku begitu mencintainya Rabb. Dia yang selalu membantuku menghapus butir kegelisahan hati, dan menguatkan kasihku pada Mu. Pesan itu begitu panjang, ia sahabatku rela mengirimkan pesan panjang itu lewat SMS yang pasti banyak menghabiskan layar. Namun, itu sangat bermakna bagiku. Hatiku yakin kini. Mantap pada keputusan yang akan aku lakukan untuk menghapus semua goyah kalbu ini. Aku khawatir, jika aku tak melakukannya, aku akan lebih parah dari ini. 


Bismillah, Rabb terimalah niat lurus ku ini. Tak ada lain yang kuinginkan selain ridha Mu saja. Sungguh hanya itu Allah. Sujud takzim ku persembahkan untuk Nya. Kali ini aku merasa sujud ini begitu berkesan. Wahai dunia dengan segala perangkatmu, aku ingin sejenak melupakanmu, meninggalkan harapan dan bayangan serta nafsu yang selama ini melekat di dinding jiwaku. Tak ada janji apapun yang mengikatku, selain hanya janji dari Nya saja. 

Kuhapus air mata ini. Kuharap tetesan ini menghapus khilaf yang aku lalui. Kini, hatiku mantap sudah, melangkah maju ke Darul Hufadz, tanah impianku selama ini. Moga saja Aku bisa menghilangkan Hubbud dunya yang ada dalam jasadku selama ini. Allah, aku datang untuk memelihara kalam Mu, seperti yang pernah dilakukan oleh para sahabat dulu. Faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alalllah. Bismillah. 




 "Kegelisahan yang terdapat dalam jiwa manusia terutama pada hati nurani seringkali membuat tidak nyaman. Menjadikan rangkaian aktifitas dalam kehidupan kita menjadi tidak beraturan. Meski sudah mencoba hal-hal yang bertujuan untuk melepaskan kegelisahan itu namun masih saja membekas dan mungkin akan menjadi besar kembali rasa gelisah itu. 

Pada hakikatnya manusia merasakan gelisah disebabkan karena rasa takut pada hak-haknya. Namun terlepas dari itu usaha untuk mengatasi kegelisahan sangatlah perlu. Yaitu dengan dimulai dari diri kita sendiri, dengan bersikap tenang dan tidak terbawa pengaruh emosi dalam jiwa kita. Karena jiwa kita sendirilah yang dapat kita kontrol untuk terlepas dari rasa kegelisahan.

Tak ada cara lain selain berserah diri kepada Allah SWT dan merenungi apa kesalahan kita dihadapan-Nya. Berserah diri akan membuat hati dan jiwa kita menjadi lebih tenang. Melepaskan segala masalah yang menjerat kalbu, meski sifatnya sementara namun efeknya terus mendorong kita untuk berfikir jernih dan membuat kita berperilaku baik. Itulah dahsyatnya berserah diri dalam mengatasi kegelisahan".


Manusia dan Penderitaan

  
 (gambar ilustrasi)


Sangat hati-hati sekali, aku mulai membuka sampul surat itu. Aku kaget bukan main! Surat Hanin tampil dalam bentuk lain, undangan pernikahan dengan motif bunga yang melambangkan kehidupan. Dalam lembaran terpisah, ada kertas kecil yang bertuliskan:

Putri…
Aku tunggu kehadiranmu. Walau hanya dalam mimpi dan anganku.

Hanin akan menikah? Aku jadi bimbang. Ingin sekali aku memenuhi undangan itu, melihatnya bahagia, tapi bagaimana caranya? Saat ini aku hanya bisa berbaring, menanti kehidupan baru, kehidupan yang pernah disampaikan Hanin padaku. Jika tidak aku penuhi undangan itu, aku merasa sangat berdosa. Percuma selama ini aku berjuang, jika rasa berdosa itu ikut menyelimuti tubuhku.

* * *
Ya, bagaimana aku tidak merasa berdosa, sejak kepergian ibu, tidak ada lagi yang mau menemani hari-hariku, kecuali Hanin. Hanin, wanita yang usianya sepuluh tahun di atasku, telah menjadi bagian dalam kehidupanku. Haninlah yang terus memberiku semangat hingga saat ini aku masih bisa bertahan, bertahan untuk terus hidup.

Hanin tidak seperti Rina yang selalu menghindar bila berjumpa denganku. Padahal dulu, kami selalu pergi ke sekolah bersama, belajar bersama dan bermain bersama. Jika ada kesempatan, Rina selalu singgah ke rumahku, hanya untuk bercerita bahwa Robi hampir tiap malam meneleponnya, bahwa Robi telah resmi menjadi pacarnya dan bahwa Robi telah berani mecium pipinya.

Hanin juga tidak seperti Leo, yang selalu menghindar bila berjumpa denganku. Padahal dulu, Leo selalu mencuri perhatianku, selalu berusaha mendekatiku, dan akhirnya Leo menjadi kekasihku yang kemudian meninggalkanku. Hanin juga tidak seperti ayah, ayah selalu sibuk dengan urusan kantor dan wanita-wanita simpanannya.

Aku mengenal Hanin setahun yang lalu, lewat sebuah saluran komunikasi yang di sebut “chatting”. Waktu itu kami saling berbagi cerita, pengalaman, dan keluh kesah. Perkenalan kami berlanjut lewat surat dan telepon jarak jauh (ternyata Hanin bermukim di sebuah kota yang jaraknya ratusan kilometer dari kotaku). Aku ceritakan semuanya tentang kehidupanku, tentang semua penderitaanku, dan Hanin seperti tidak pernah bosan membalas semua surat-suratku. Katanya, “penderitaan itu adalah perjuangan, hidup memang penuh perjuangan, hidup tanpa perjuangan adalah kematian”, begitulah isi dari suratnya yang pertama kali untukku. Kata-katanya itu masih tertanam kuat dalam hatiku, kata-kata itulah yang membuatku masih bisa bertahan, bertahan untuk terus hidup. 

Lewat telepon, aku tidak saja bercerita tentang penderitaanku yang menurutnya adalah perjuanganku, tapi juga tentang penderitaan ibuku. Aku ceritakan semuanya tentang bagaimana menderitanyan ibu menghadapi tingkah polah ayah. Ya, ayah sedikitpun tidak pernah memperdulikan kami, anak dan istrinya. Jika ibu menanyakan hal itu pada ayah, maka dapat dipastikan ayah akan marah, lalu membentak-bentak ibu, menamparnya, memukulnya, dan bahkan tak jarang, ayah menggunakan kakinya untuk menendang ibu. Untuk hal yang satu ini, aku betul-betul tidak bisa melupakannya. Suatu hari, ibu menemukan foto ayah yang sedang asyik bermesraan dengan seorang perempuan yang entah siapa namanya. Tentu saja ibu tidak tinggal diam. Ibu kemudian menemui ayah dan menanyakan siapa perempuan yang bersamanya di foto itu. Ayah kaget, lalu merebut foto tersebut, kemudian ayah menampar ibu, memukul ibu dan menendangnya.

“Ini bukan urusanmu, awas! Jangan mengungkit masalah ini kalau tidak ingin kuceraikan!”
Kuperhatikan waktu itu ibu tidak bisa berbuat apa-apa, ibu hanya menunduk sembari menahan butiran lembut yang tiba-tiba saja mengalir di pipinya. Sejak saat itulah, hubungan ibu dan ayah tidak harmonis lagi. 

Aku juga menceritakan bagaimana menderitanya ibu ketika mendengar ejekan tetangga sejak aku di vonis oleh dokter menderita penyakit yang sama sekali tak pernah kubayangkan. Akhirnya ibu meninggal. Tapi Hanin tetap saja mengatakan bahwa penderitaan itu adalah perjuangan.
“Putri, penderitaan ibumu juga perjuangan,hidup memang penuh dengan perjuangan,mati dalam perjuangan adalah kehidupan”
“Berarti ibuku telah menemukan kehidupannya?”
“Insyaallah, berdo’alah”

* * *
Sejak penyakit itu bersarang ditubuhku, sejak itulah berbagai penderitaan muncul di dalam kehidupanku. Kenapa harus penyakit itu yang bersarang ditubuhku? Apa salahku? Aku bukan pelacur, aku tidak pernah menjual tubuhku, aku tidak pernah menjual pantatku, apalagi selangkanganku. Ketika kutanyakan hal ini kepada semua orang yang pernah kukenal, kecuali Hanin, jawaban mereka nyaris sama : “itu adalah suratan, itu adalah takdir”. Ah, persetan dengan suratan, persetan dengan takdir, ataukah Tuhan yang tidak adil padaku?

Akhir-akhir ini pekerjaan rutinku hanya menulis dan membaca surat, hanya itu yang bisa aku lakukan selain makan dan tidur di ranjangku yang kadang-kadang membuat nafasku terasa sesak. Aku tidak lagi sekolah seperti dulu. Pihak sekolah telah lama mengeluarkan aku dari daftar siswa, menurut mereka, hal itu untuk menjaga nama baik sekolah. Padahal, banyak sekali guru-guru di sekolahku terlibat korupsi, termasuk kepala sekolah itu sendiri. Apakah hal itu tidak merusak nama baik sekolah? Tapi aku tetap bersyukur, lebih baik dikeluarkan dari pada tetap bersekolah. Penderitaanku akan bertambah bila tetap bersekolah. Di sekolah, aku dikucilkan, di cemooh, dan digunjingkan, bukankah itu akan menambah penderitaanku?

Belakangan ini komunikasiku dengan Hanin hanya berlangsung lewat surat. Aku tidak bisa lagi memakai jasa internet, karena untuk menempuh warnet langgananku, aku harus berjalan sejauh satu kilometer. Aku tidak sanggup lagi berjalan sejauh itu. Kendaraan umum yang ada pun hanya ojek. Naik ojek? Itu sama saja membunuhku. Pernah suatu ketika, aku naik ojek sepulang dari warnet, tiba-tiba tubuhku gemetar dan kepalaku pusing, kemudian aku terjatuh dan dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Hal ini tentu saja membuatku semakin menderita.
Aku tidak berani lagi memakai telepon rumah, ayah sangat marah jika mengetahui pulsa telepon rumah membengkak gara-gara sering kupakai untuk menghubungi Hanin. Untuk pergi ke wartel, kasusnya sama saja dengan pergi ke warnet.

Kali ini surat Hanin tidak lagi tentang perjuangan, tapi tentang kebahagiaan. Kebahagiaan dari perjuangan. Katanya, ia sudah bertunangan dengan seorang lelaki yang sangat mencintainya, seperti ia mencintai lelaki itu. Oh ya, ternyata lelaki itu satu kuliah dengannya. Akhir-akhir ini ku ketahui bahwa Hanin adalah mahasiswa semester terakhir jurusan psikologi di salah satu perguruan tinggi negri yang ada di kotanya. Setelah di wisuda nanti ia akan menikah dengan lelaki itu. Ia juga menanyakan kapan aku menikah, kalau mau seperti dia, aku harus tetap berjuang, kebahagiaan berasal dari perjuangan, begitulah isi dari suratnya. Setelah membaca surat itu, aku mulai merasa sedikit bahagia. Aku merasa memiliki harapan walau dokter menyatakan tidak.

Semua surat-surat Hanin aku susun dan aku lipat dengan sangat hati-hati sekali. Semuanya aku simpan dalam sebuah lemari kecil yang terletak di sudut kamarku. Lemari kecil itu sengaja aku jadikan sebagai tempat khusus penyimpan surat-surat dari Hanin. Aku pasti membuka lemari kecil itu dan membaca kembali surat-surat kiriman dari Hanin jika aku merasa kesepian. Karena surat-surat itulah sampai saat ini aku masih bisa menikmati penderitaan, perjuangan, yang katanya berbuah kebahagiaan.
Tiga bulan setelah itu Hanin tidak lagi membalas surat-suratku. Apakah penyebabnya? Aku tidak tahu. Sudah bosankah Hanin membalasnya? Atau Hanin telah melupakan aku? Meninggalkan aku? Mungkin saja, mungkin saja ia telah larut dalam kebahagiaannya karena telah menikah dengan lelaki pilihannya dan kemudian tidak ingat lagi padaku. Mungkin saja begitu, banyak kutemui orang-orang seperti itu: di saat bahagia lupa akan segalanya. Kenapa tidak, toh Hanin hanya manusia biasa. 

Tapi itu tidak mungkin. Hanin tidak seburuk itu. Mungkin Hanin sedang dalam masalah, atau mungkin Hanin sedang sakit, sakit yang begitu parah, lebih parah dari penyakitku.
Jika memang demikian, berarti ia tengah berjuang sepertiku. Jika memang, aku harus kembali menulis surat padanya, memberinya semangat untuk terus berjuang. Tapi bagaimana caranya? Penyakit itu semakin ganas menerkam tubuhku! Daya tahan tubuhku semakin hilang sehingga tidak bisa lagi menulis. Aku anya bisa berdo’a seperti yang pernah diajarkan Hanin padaku. Kali ini aku berdo’a untuk Hanin.

Alhamdulillah, do’aku dikabulkan Tuhan. Mbok Inah—janda tua yang sebulan belakangan ini digaji ayah untuk merawatku—datang membawa sepucuk surat. Katanya untukku, aku yakin itu pasti dari Hanin. Siapa lagi kalau bukan Hanin, hanya ia yang selalu menulis surat padaku. Ternyata Hanin telah sembuh, Hanin telah bisa kembali menulis surat untukku.

* * *
Ya, dengan sangat hati-hati, aku buka sampul surat itu. Isi suratnya tampil dalam betuk lain. Sebuah undangan pernikahan dengan motif bunga yang melambangkan kehidupan, dan dalam lembaran terpisah, ada kertas kecil bertuliskan: 

Putri…
Aku tunggu kehadiranmu. Walau hanya dalam mimpi dan anganku.

Ingin sekali aku memenuhi undangan itu, melihatnya bahagia. Tapi bagaimana caranya? Ah, aku tidak boleh putus asa, kata Hanin, Tuhan amat murka pada hamba-Nya yang mudah putus asa. Aku harus berusaha, setidaknya memberi tahu Hanin, bahwa aku bahagia menerima undangannya dan ingin sekali menghadiri pesta pernikahannya, menyaksikan Hanin bersanding di pelaminan bersama lelaki yang amat mencintainya.

Tanpa buang waktu lagi, segera kuraih gagang telepon, aku ingin menelepon Hanin. Aku akan katakan pada Hanin bahwa aku akan hadir di hari pernikahannya. Tapi tiba-tiba pandanganku berubah menjadi gelap. Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara memanggil namaku, suara yang sangat familiar sekali di telingaku. Mula-mula suara ibu, lalu berganti dengan suara Hanin. Heran, aku merasa sedang berada di negri lain, negri yang begitu asing bagiku. Inikah yang namanya kehidupan itu? Kehidupan yang pernah dikatakan Hanin padaku? Pandanganku semakin gelap, nafasku tiba-tiba sesak dan kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.




"Penderitaan janganlah dianggap sebagai kelemahan utama pada diri kita. Hal itulah yang membuat kita semakin lemah tak berdaya dan selalu berfikir pesimis dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya masih banyak harapan. Stimulasikanlah penderitaan sebagai poin-poin perjuangan demi mencapai angan dan keinginan yang ada pada hati nurani. 

Manusia yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif biasanya mengekspresikan penyesalan karena tidak bahagia, kekecewaan, putus asa,  bahkan yang lebih ekstrem adalah ingin bunuh diri. 

Namun, manusia haruslah berjuang! Itulah kata yang sangat ampuh untuk memunculkan semangat hidup tanpa halangan yang disebabkan oleh penderitaan. Sesungguhnya penderitaan itu adalah proses/ujian yang bilamana berhasil dilalui niscaya akan mendapatkan kebahagiaan hakiki".

Rabu, 25 April 2012

Once Upon Time In A Mexico


[ Once Upon Time In A Mexico ] 




2003
Antonio Banderas, Salma Hayek, Johnny Depp


Mengisahkan tentang rencana kudeta Barillo terhadap pemerintahan Meksiko yakni sang Presiden yang tidak lain sebagai sasaran utama. Namun El Mariachi (Antonio Banderas) tidak tinggal diam, ia berprinsip untuk selalu membela negara dimana tempat ia dilahirkan dan dibesarkan meski harus mengorbankan nyawanya. El Mariachi di rekrut oleh agen CIA yang bernama Sheldon Sans (Johnny Depp) untuk membunuh Jenderal Marquez demi menghentikan kudeta yang akan segera dilakukan.

Beberapa tahun yang lalu, El Mariachi dan istrinya Carolina (Salma Hayek) beserta sang putri  tertangkap dalam penyergapan yang diketuai oleh Jenderal Marquez, menyebabkan tewas dan lukanya beberapa orang pada saat penyergapan itu termasuk istri dan buah hati El Mariachi. Hal tersebutlah yang membuat El Mariachi takkan bisa melupakan masa lalunya. 

Selain El Mariachi, Sheldon merekrut Agen Jorge Ramirez untuk membantu menyelesaikan misi ini. Meski Agen Jorge telah pensiun, ia tetap bersikukuh untuk membela kebenaran dan menangkap pelaku pembunuhan yang menewaskan rekan kerjanya. Ia berjanji akan menuntaskan kasus yang tak kunjung selesai itu.

Banyak intrik dan plot yang cukup kompleks dalam film ini, sehingga benar-benar memperlihatkan betapa sulitnya menegakkan keadilan melawan para pejabat korup yang gila akan kekuasaan. Presiden Meksiko yang dijadikan sasaran pada kudeta yang akan dilakukan pada Festival Orang Mati (budaya Meksiko) sepertinya tidak akan ada harapan baginya untuk melanjutkan pemerintahan bahkan hidupnya pun jua.

Berkat bantuan dari warganegara yang baik sepert El Mariachi dan kawan-kawan serta Agen dan ajudan-ajudan yang mau membela negara dengan melindungi Presiden sampai titik darah penghabisan, komplotan Barillo dan para kroni Jenderal Marquez dapat diselesaikan dengan baik. Kerjasama tim dan koordinasi yang apik serta aksi yang menegangkan membuat kita menjadi mengerti makna dari apa pandangan hidup yang sesungguhnya.



"Aksi kepimpinan El Mariachi telah menyadarkan kawan-kawannya tentang apa pentingya kemerdekaan yang hakiki dibanding hal lain-lainnya di muka bumm ini. Mungkin uang dapat menyenangkan hidup kita, tetapi ingatlah bahwa kemerdekaan itu lebih dari sekedar uang yang dianggap segalanya. Kekuasaan yang dapat memenuhi hasrat untuk berkuasa sebagai pemimpin mungkin itu bukan ide yang buruk, tetapi jika itu semua dalam keadaan tidak merdeka maka apalah arti kekuasaan?"

Owl City


[ Owl City ] 


Adam Young


Adalah sebuah proyek musik second wave synth pop milik Adam Young yang album perdananya di rekam pada tahun 2007 silam. Apa yang menarik dari Owl City? Saya akan membahas tentang pengalaman menarik saya setelah mengetahui Owl City.

Kali pertama saya mendengar lagu Owl City berawal dari mencopy lagu secara acak di warnet. Sesampainya di rumah, saya langsung mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik yang telah di copy. Dan tak sengaja ada lagu yang membuat saya menjadi penasaran. Selain itu, alunan melodi synth yang dibawakan sungguh menciptakan kesan manis dan indah. Kalau tidak salah, waktu itu saya mendengarkan lagu yang berjudul "Hot Air Balloon".

Tak kenal maka tak sayang, itulah kalimat yang terlintas di benak saya. Lantas, dengan segera saya mencari informasi di internet siapakah Band yang menyanyikan lagu tersebut. Ternyata hasil dari penelusuran adalah "Owl City". Yang semakin membuat penasaran bertambah lagi adalah, saat mengetahui bahwaOwl City hanya beranggotakan 1 orang yakni Adam Young. Mulai saat itulah setiap saya terkoneksi dengan internet, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari lagu-lagu dari Owl City dan mendownload sebanyak-banyaknya untuk dijadikan koleksi utama.

Namun ada hal lain yang ingin saya sampaikan tentang Owl City selain pengalaman saya yang di tulis di atas ini. Melihat dari makna dan kandungan lirik serta melodi yang disuguhkan Owl Ciy kepada pendengar, sungguh menyegarkan suasana dan menyenangkan. Karena Adam Young menulis lirik-lirik jitu tentang pengalaman hidupnya yang sungguh indah. Terbukti disaat fill in synth yang berirama ceria, menyentuh hati dan membuat kita menjadi riang.

Menurut saya, itulah yang membuat Owl City berbeda dari band-band lain. Selain karena lihai pada lirik-lirik yang puitis namun bukan dalam artian tentang cinta yang pada umumnya menjadi tema utama pada band-band lain, Owl City juga memiliki genre elektronika yang berbeda. Mungkin "Cheerful Electronica Pop" jikalau saya yang menilai dan memilih nama genre apa yang cocok untuk Owl City.

Berikut ini adalah beberapa lagu yang menurut saya menginspirasikan keindahan, baik dari segi makna maupun nada:
  • Hot Air Balloon
  • Firelies
  • Vanilla Twilight
  • The Tip Of The Iceberg
  • On The Wing
  • Cave In
  • If My Heart Was A House
  • I'll Meet You There

Dan baru-baru ini Adam Young berkolaborasi dengan DJ Senior asal Belanda Armin Van Buuren dengan lagu yang berjudul "Youtopia". Saya pribadi langsung tertarik dengan lagu ini dimulai dari intro. Benar-benar bernada indah, hanya itu yang dapat saya sampaikan.




"Keindahan yang terdapat dalam pengalaman pribadi dapat dituangkan melalui media apa saja. Contohnya Adam Young yang mau berbagi keindahan lewat nada-nada dan lirik Owl City yang dapat menginspirasikan kita".

Minggu, 22 April 2012

Silent Hill


[ Silent Hill ] 



2006
Radha Mitchell


Sharon, ialah anak adopsi dari pasangan Rose dan Christopher Da Silva yang setiap malam  mengalami mimpi buruk disaat ia tidur. Sharon selalu menyebut-nyebut nama Silent Hill, sehingga membuat Rose dan Chris khawatir. Tingkah laku Sharon semakin menjadi misteri, hingga suatu saat Rose mencari tahu kota yang terkenal angker tersebut.

Tanpa sepengetahuan Chris, Rose telah membawa Sharon kesana. Dalam perjalanannya, Rose bertemu dengan polisi yang bernama Cybil Bennet. Cybil mengira bahwa Rose adalah penculik anak-anak. Inisiatif pengejaran pun dilakukan oleh polisi cantik tersebut.

Setelah diberhentikan oleh Cybil, Rose melakukan upaya melarikan diri. Tak lama lepas dari pemberhentian Cybil, Rose melihat anak perempuan yang berdiri di tengah jalan dan membuat Rose hilang kendali sehingga terjadilah kecelakaan yang membuat mobil Rose menabrak pembatas jalan. Kejadian itu membuat Rose tak sadarkan diri.

Ketika Rose membuka matanya, Sharon telah menghilang dan suasana kota Silent Hill berubah menjadi mencekam dengan dipenuhi kabut dan debu. Disaat itulah Cybil berhasil menangkap Rose. Tetapi Rose membantah atas semua tuduhan Cybil dan menjelaskan kepadanya dengan jelas. Seiring waktu berjalan, Cybil dan Rose menjadi rekanan untuk mencari Sharon. Namun semua berubah ketika mulai terjadi hal-hal aneh di kota tersebut.

Upaya pencarian juga dilakukan oleh Chris terhadap istrinya yang telah meninggalkannya tanpa memberi kabar. Ia meminta bantuan pada pihak berwenang namun nihil hasilnya. Akhirnya, ia mencari tahu dengan caranya sendiri. Bagaimanapun juga Rose dan Sharon harus ia temukan. Karena hanya mereka keluarga yang ia punyai.

Singkat cerita, Rose telah menemukan dan menyelamatkan Sharon yang hampir saja menjadi tumbal dari komuni aliran sesat. Tetapi Cybil tidak terselamatkan karena ia dianggap "penyihir" oleh komuni tersebut, dan Cybil pun harus menghembuskan nafas terakhir ketika ia dieksekusi.

Kembali pada Chris, setelah ia mengetahui semua fakta tentang Sharon dan Silent Hill, ia tetap optimis untuk mencari keluarga yang ia cintai tersebut. Semua cara telah ia maksimalkan namun nol hasilnya. Hingga akhirnya ia frustasi dan tak tahu harus bagaimana lagi.

Setelah menyelamatkan Sharon, Rose kembali ke rumah. Namun kali ini ada yang berbeda dari sebelumnya, di sisi Rose dan Sharon masih bersuasana kabut dan debu, padahal mereka sudah tidak berada lagi dalam kawasan Silent Hill. Pun sama ketika mereka sampai di rumah. Di sisi lain, Chris menunggu Rose dan Sharon di rumah. Pada saat itu sebenarnya Rose dan Sharon sudah berada tepat di depan Chris, namun Chris tak dapat melihat mereka. Karena memang barang siapa yang telah memasuki Silent Hill, niscaya tak akan dapat kembali.

"Usaha dari Rose, maupun Chris sungguh menunjukkan cinta dan kasih sayang yang sangat mendalam. Terdapat perwujudan manusia dan cinta kasih orang tua yang sangat mencintai anaknya, meski anak tersebut adalah bukan anak kandungnya. Dan kasih sayang Suami kepada Istri yang tulus. Serta kasih sayang terhadap sahabat yang telah ditunjukkan oleh Cybil dengan mengorbankan nyawanya demi  Rose dan Sharon".

Forrest Gump

[Forrest Gump]


1994
Tom Hanks

Film ini menceritakan tentang seorang pria bernama Forrest Gump yang dibesarkan oleh ibu nya dengan penuh perjuangan. Forrest sering diejek dan dijauhi oleh kawan-kawannya karena kecerdasannya yang di bawah rata-rata. Namun di luar ketidakmampuannya itu, ia memiliki kemampuan lari yang cepat. Di hari pertama sekolahnya, ia melihat Jenny yang tidak lain adalah anak perempuan yang ia sukai sejak taman kanak-kanak. Jenny juga tinggal di dekat rumah Forrest. Namun cinta Forrest bertepuk sebelah tangan.

Setelah lulus SMA, Forrest mendaftar militer dan ditugaskan di Vietnam. Di asrama ia berteman dengan pria berkulit hitam yang bernama Bubba, yang selalu mengatakan keuntungan berbisnis tambak udang pada Forrest. Bubba merencanakan bisnis itu bila setelah perang usai. Dalam  peletonnya Forrest sangat berjasa karena kemampuan lari cepatnya. Ia menyelamatkan banyak prajurit yang terluka termasuk komandan yang putus asa karena terkena serangan yang membuat sebagian tubuhnya hancur. Namun karena kegigihan Forrest dalam meyakinkan sang komandan, akhirnya komandan dapat terselamatkan. Meski ia terluka karena terkena tembakan, namun ia diberi penghargaan atas aksi kepahlawanannya di medan perang.

Forrest yang dalam masa penyembuhan di rumah sakit asrama menemukan talenta yang terpendam. Yaitu tenis meja atau biasa disebut dengan pingpong. Forrest menjadi terkenal dan membawa nama negaranya ke ajang internasional kontra tim Cina. Setelah itu, ia bertemu dengan Jenny yang telah lama tak tampak dalam hidupnya pada demonstrasi menolak perang. Tetapi Forrest kecewa akan Jenny yang telah bergaya hidup ala hippie.

Forrest dewasa menghabiskan waktunya untuk melakukan pencarian teman kecil perempuannya yang hilang. Ia mengeluarkan uang tabungannya untuk membeli kapal penangkap udang seperti yang dijanjikannya pada Bubba. Pada awalnya, usahanya selalu gagal tapi dengan kerja keras dan pantang menyerah, dan dibantu oleh komandannya yang telah pensiun karena cacat, ia pun menjadi seorang yang sukses dan mampu untuk membiayai keluarga Bubba.

Suatu hari, Jenny kembali dan menemui Forrest, yang kemudian melamarnya. Jenny menolak, tetapi merasa harus membuktikan cintanya kepada Forrest dengan tidur bersamanya. Jenny kemudian pergi pagi-pagi benar. Tanpa berpikir panjang, Forrest memilih untuk melakukan perjalanan. Mungkin secara impulsif, ia memutuskan untuk berlari mengelilingi Amerika Serikat, selama lebih dari tiga setengah tahun, dan menjadi terkenal.

Sekembalinya di kemudian hari, ia mendapatkan surat dari Jenny, yang melihatnya sedang berlari di televisi, memintanya untuk datang. Setelah bertemu, Forrest menyadari bahwa Jenny telah memiliki seorang anak laki-laki, yang adalah anak mereka berdua. Jenny memberitahu Forrest bahwa Jenny sedang sakit karena virus (kemungkinan AIDS). Ketiganya kemudian kembali ke Greenbow, Alabama. Jenny dan Forrest akhirnya menikah, tetapi tak lama kemudian Jenny meninggal dunia.


Forrest memiliki sifat bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia komitmenkan dalam dirinya. Meski Jenny telah meninggal dunia, Forrest tetaplah Forrest. Kini ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengurus anak laki-lakinya yang diberi nama Forrest Jr.



"Tanggung jawab yang besar ada pada dalam diri yang berjiwa besar".



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More